0
ABSTRAK
            Pertanian merupakan salah satu kegiatan paling mendasar bagi manusia, dan air merupakan salah satu input pertanian yang sangat penting. Permasalahan kekeringan masih terjadi dibeberapa wilayah Indonesia sehingga berpengaruh terhadap produktivitas hasil pertanian. Irigasi merupakan salah satu metode untuk mengatasi masalah kekeringan dengan cara menyalurkan air ke tanaman petani. Aceh merupakan daerah yang menargetkan peningkatan produksi padi akan tetapi dibeberapa wilayah yang menjadi lumbung padi seperti Aceh Besar, Aceh Utara dan Pidie justru mengalami permasalahan kekeringan. Makalah ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan kekeringan lahan sawah di Aceh dan mencari solusi untuk mengatasinya. Data di dapat dari studi kepustakaan, buku, jurnal dan sumber internet yang relevan. Hasil diketahui bahwa irigasi di Aceh belum dimanfaakan secara optimal ini terbukti hanya 57% lahan sawah di Aceh yang menggunakan irigasi, masih terjadinya kekeringan lahan pertanian dibeberapa wilayah Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan Pompa Air Tenaga Surya yang sumber airnya dapat diambil dari sumur gali, sumur bor, sungai, danau, dan sebagainya dengan menggunakan energi matahari sebagai sumber pengeraknya sehingga lebih efisien. Disarankan untuk pemerintah Aceh khususnya untuk segera mengatasi masalahan kekeringan dengan meningkatkan infrastruktur irigasi dan dapat mencoba mengunakan Pompa Air Tenaga Surya sehingga target Aceh meningkatkan produksi padi biasa tercapai.
Kata Kunci : Irigasi, Pertanian, Kekeringan, Aceh

A.    PENDAHULUAN
1.        Latar Belakang
Air merupakan sebuah kebutuhan yang sangat mendasar yang dibutuhkan manusia terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard air dipermukaan bumi, dan ini terbagi lagi menjadi 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah dan sebagainya. Hanya 0,001% berbentuk uap di udara. Air di bumi ini mengalami siklus, Air menguap ke udara dari permukaan tanah dan laut, berubah menjadi awan sesudah melalui beberapa proses dan kemudian jatuh sebagai hujan atau salju ke permukaan laut atau daratan dan ini disebut siklus hidrologi.
Dewasa ini permasalahan air semakin kompleks ini dapat dirasakan di kota-kota besar di Indonesia khususnya. Dimana kebutuhan air bersih semakin meningkat yang berbanding lurus dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk di kota-kota besar. Eksploitasi besar-besaran oleh industri juga menjadi penyebab krisis air yang terjadi. Sementara itu masyarakat masih beranggapan bahwa air bersih masih tersedia dalam jumlah yang tidak terbatas. Masyarakat masih belum paham terhadap fakta bahwa air besih merupakan sumberdaya yang saat ini mengalami kelangkaan ini tercermin dari ketidakefesienan pemakaian air serta tingginya pencemaran air. Ini tentu akan menjadi permasalahan serius karena seperti yang sudah dibahas di atas air merupakan kebutuhan mendasar hampir diseluruh aspek baik kegiatan rumah tangga hingga kegiatan perekonomian.
Pertanian merupakan salah satu kegiatan perekonomian yang paling banyak digeluti oleh penduduk Indonesia, dan air merupakan salah satu input pertanian yang sangat penting. Sumber air permukaan sampai saat ini menjadi andalan untuk penyediaan air irigasi. Namun tidak semua daerah yang memiliki lahan pertanian dapat dilayani dengan irigasi teknis yang bersumber dari air permukaan tersebut. Beberapa wilayah di Indonesia masih mengandalkan air hujan untuk usaha pertanian seperti pada sawah tadah hujan. Ini semua akibat dari masih kurangnya pengetahuan masyarakat Indonesia dalam pemanfaatan teknologi dalam bidang pertanian .
Masalah kekeringan menjadi kendala dibeberapa daerah di Indonesia, salah satunya adalah Aceh. Wilayah yang memiliki program peningkatan produksi padi ini terhambat oleh masalah kekeringan, padahal terdapat cukup banyak sumber air di daerah ini. hal ini tentu sangat menyulitkan para petani dan juga mewujudkan program dari pemerintah. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan metode irigasi, yaitu metode yang digunakan untuk menyalurkan air ke sawah para petani. Mengapa terjadi kekeringan lahan sawah petani di Aceh dan metode irigasi bagaimanakah untuk mengatasi permasalahan tersebut? Maka dari latarbelakang tersebut makalah ini akan membahas mengenai “Pemanfaatan Irigasi untuk mengatasi kekeringan lahan pertanian”.
2.     Rumusan Masalah
1.         Mengapa terjadi permasalahan kekeringan lahan pertanian di Aceh?
2.   Metode bagaiamanakah yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan kekeringan lahan pertanian di Aceh?
3.     Tujuan
1.         Mengetahui masalah kekeringan lahan pertanian di Aceh
2.   Mengetahui metode yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan kekeringan lahgan pertanian di Aceh

B. LANDASAN TEORI
1. Irigasi
            Menurut Suyono Sosrodarsono (1976:216) Irigasi adalah menyalurkan air yang perlu untuk petumbuhan tanaman ke tanah yang diolah dan mendistribusinya secara sistematis.. Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Dalam dunia modern, saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Perancangan irigasi disusun terutama berdasarkan kondisi-kondisi meteorologi di daerah bersangkutan dan kadar air yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Prabowo & Wiyono  (2006) menyatakan irigasi adalah salah satu komponen penting dalam mekanisme pertanian dalam peningkatan efisiensi dan produksi pertanian. Melalui perancangan sistem irigasi yang memperhatikan aspek-aspek kondisi tanah, kebutuhan iklim mikro, maka efisiensi pengunaan air dapat ditingkatkan yang selanjutnya akan meningkatkan produktivitas hasil pertanian.
Pada zaman dahulu, jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mengalirkan air tersebut ke lahan pertanian. Namun demikian, irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa air dengan menggunakan wadah kemudian menuangkan pada tanaman satu per satu. Untuk irigasi dengan model seperti ini di Indonesia biasa disebut menyiram. Suyono Sosrodarsono (1976:20) menyatakan bahwa dalam menetapkan rancangan irigasi, diperlukan survey dan penyelidikan berturut-turut sebagai berikut :
a.    Data meteorologi : Untuk penentuan tahun/periode dasar bagi rancangan irigasi harus dikumpulkan data curah hujan dengan jangka waktu yang sepanjang mungkin. Disamping curah hujan, diperlukan juga peyelidikan evapotranspirasi, kecepatan angin, arah angin, suhu udara, jumlah jam penyinaran matahari, kelembaban dan lain-lain.
b.  Penyelidikan debit sungai : data hidrologi sungai yang menjadi sumber utama air untuk irigasi harus diselidiki/dikumpulkan selama lebih dari 10 tahun, terutama data debit air biasa/normal, debit air rendah, debit air musim kering dan lain-lain.
c.       Survey air tanah : jika diperkirakan bahwa air tanah itu dapat dipergunakan sebagai sumber air untuk irigasi, maka perkiraan variasi bulanan dari volume air tanah yang ada itu harus didahului oleh survey geologi dan observasi selama setahun dari muka air tanah.

2. Jenis-Jenis Irigasi
            Terdapat beberapa jenis pembagian irigasi menurut proses pengaliran airnya diantaranya adalah :
a)      Irigasi Permukaan
Irigasi Permukaan merupakan sistem irigasi yang menyadap air langsung
di sungai melalui bangunan bendung maupun melalui bangunan
pengambilan bebas (free intake) kemudian air irigasi dialirkan secara
gravitasi melalui saluran sampai ke lahan pertanian. Di sini dikenal saluran
primer, sekunder, dan tersier. Pengaturan air ini dilakukan dengan pintu
air. Prosesnya adalah gravitasi, tanah yang tinggi akan mendapat air lebih
dulu.
b)      Irigasi Lokal
Sistem ini air distribusikan dengan cara pipanisasi. Di sini juga berlaku
gravitasi, di mana lahan yang tinggi mendapat air lebih dahulu. Namun air
yang disebar hanya terbatas sekali atau secara lokal.
c)      Irigasi dengan Penyemprotan
Penyemprotan biasanya dipakai penyemprot air atau sprinkle. Air yang
disemprot akan seperti kabut, sehingga tanaman mendapat air dari atas,
daun akan basah lebih dahulu, kemudian menetes ke akar.
d)     Irigasi Tradisional dengan Ember
Di sini diperlukan tenaga kerja secara perorangan yang banyak sekali. Di
samping itu juga pemborosan tenaga kerja yang harus menenteng ember.
e)      Irigasi Pompa Air
Air diambil dari sumur dalam dan dinaikkan melalui pompa air, kemudian
dialirkan dengan berbagai cara, misalnya dengan pipa atau saluran. Pada
musim kemarau irigasi ini dapat terus mengairi sawah

3. Tujuan Irigasi
Tentunya setelah menetapkan rancangan irigasi pastilah memiliki tujuan pembangunan irigasi. Secara umum tujuan irigasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu, tujuan langsung dan tujuan tidak langsung.
a)      Tujuan Irigasi langsung
Tujuan irigasi secara langsung adalah membasahi tanah, agar dicapai suatu kondisi tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman dalam hubungannya dengan prosentase kandungan air dan udara diantara butir-butir tanah. Pemberian air dapat juga mempunyai tujuan sebagai pengangkut bahan-bahan pupuk untuk perbaikan tanah.
b)       Tujuan irigasi secara tidak langsung
Tujuan irigasi secara tidak langsung adalah pemberian air yang dapat menunjang usaha pertanian melalui berbagai cara antara lain, mengatur suhu tanah, membersihkan tanah, memberantas hama, mempertinggi permukaan air tanah, dan lain-lain.

4. Jaringan Irigasi
Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan bangunan yang diperlukan untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan penggunaannya. Berkaitan dengan sistem irigasi. Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi jaringan utama dan jaringan tersier. Jaringan utama meliputi bangunan, saluran primer dan saluran sekunder. Sedangkan jaringan tersier terdiri dari bangunan dan saluran yang berada dalam petak tersier. Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan air dari suatu jarigan irigasi disebut dengan Daerah Irigasi.
a) Klasifikasi Jaringan Irigasi
Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran, serta kelengkapan fasilitas, jaringan irigasi dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu (1) jaringan irigasi sederhana, (2) jaringan irigasi semi teknis dan (3) jaringan irigasi teknis. Karakteristik masing-masing jenis jaringan diperlihatkan pada di bawah ini.



Klasifikasi Jaringan Irigasi
Teknis
Semi Teknis
Sederhana
Bangunan Utama
Bangunan Permanen
Bangunan permanen atau semi permanen
Bangunan sementara
Kemampuan dalam mengukur dan mengatur debit
Baik
Sedang
Tidak mampu mengatur/mengukur
Jaringan saluran
Saluran pemberi dan pembuang terpisah
Saluran pemberi dan pembuang tidak sepenuhnya terpisah
Saluran pemberi dan pembuang menjadi satu
Petak tersier
Dikembangkan sepenuhnya
Belum dikembangkan dentitas bangunan tersier jarang
Belum ada jaringan terpisah yang dikembangkan
Efisiensi secara keseluruhan
50-60%
40-50%
<40%
Ukuran
Tidak ada batasan
<2000 Hektar
<500 hektar
Sumber : Standar Perencanaan Irigasi

            Jaringan irigasi sederhana biasanya diusahakan secara mandiri oleh suatu kelompok petani pemakai air, sehingga kelengkapan maupun kemampuan dalam mengukur dan mengatur masih sangat terbatas. Ketersediaan air biasanya melimpah dan mempunyai kemiringan yang sedang sampai curam, sehingga mudah untuk mengalirkan dan membagi air. Jaringan irigasi sederhana mudah diorganisasikan karena menyangkut pemakai air dari latar belakang sosial yang sama. Namun jaringan ini masih memiliki beberapa kelemahan antara lain, (1) terjadi pemborosan air karena banyak air yang terbuang, (2) air yang terbuang tidak selalu mencapai lahan di sebelah bawah yang lebih subur, dan (3) bangunan penyadap bersifat sementara, sehingga tidak mampu bertahan lama.
Jaringan irigasi semi teknis memiliki bangunan sadap yang permanen ataupun semi permanen. Bangunan sadap pada umumnya sudah dilengkapi dengan bangunan pengambil dan pengukur. Jaringan saluran sudah terdapat beberapa bangunan permanen, namun sistem pembagiannya belum sepenuhnya mampu mengatur dan mengukur. Karena belum mampu mengatur dan mengukur dengan baik, sistem pengorganisasian biasanya lebih rumit.
Jaringan irigasi teknis mempunyai bangunan sadap yang permanen. Bangunan sadap serta bangunan bagi mampu mengatur dan mengukur. Disamping itu terdapat pemisahan antara saluran pemberi dan pembuang. Pengaturan dan pengukuran dilakukan dari bangunan penyadap sampai ke petak tersier.
 Untuk memudahkan sistem pelayanan irigasi kepada lahan pertanian, disusun suatu organisasi petak yang terdiri dari petak primer, petak sekunder, petak tersier, petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan terkecil.
b) Petak tersier
Petak tersier terdiri dari beberapa petak kuarter masing-masing seluas kurang lebih 8 sampai dengan 15 hektar. Pembagian air, eksploitasi dan perneliharaan di petak tersier menjadi tanggungjawab para petani yang mempunyai lahan di petak yang bersangkutan dibawah bimbingan pemeintah. Petak tersier sebaiknya mempunyai batas - batas yang jelas, misalnya jalan, parit, batas desa dan batas-batas lainnya. Ukuran petak tersier berpengaruh terhadap efisiensi pemberian air. Beberapa faktor lainnya yang berpengaruh dalam penentuan luas petak tersier antara lain jumlah petani, topografi dan jenis tanaman. Apabila kondisi topografi memungkinkan, petak tersier sebaiknya berbentuk bujur sangkar atau segi empat. Hal ini akan memudahkan dalam pengaturan tata letak dan perabagian air yang efisien. Petak tersier sebaiknya berbatasan langsung dengan saluran sekunder atau saluran primer. Sedapat mungkin dihindari petak tersier yang terletak tidak secara langsung di sepanjang jaringan saluran irigasi utama, karena akan memerlukan saluran muka tersier yang mebatasi petak-petak tersier lainnya.
c) Petak Sekunder
Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier yang kesemuanya dilayani oleh satu saluran sekunder. Biasanya petak sekunder menerima air dari bangunan bagi yang terletak di saluran primer atau sekunder. Batas-batas petak sekunder pada urnumnya berupa tanda topografi yang jelas misalnya saluran drainase. Luas petak sukunder dapat berbeda-beda tergantung pada kondisi topografi daerah yang bersangkutan. Saluran sekunder pada umumnya terletak pada punggung mengairi daerah di sisi kanan dan kiri saluran tersebut sampai saluran drainase yang membatasinya. Saluran sekunder juga dapat direncanakan sebagai saluran garis tinggi yang mengairi lereng lereng medan yang lebih rendah.
d) Petak Primer
Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder yang mengambil langsung air dari saluran primer. Petak primer dilayani oleh satu saluran primer yang mengambil air langsung dari bangunan penyadap. Daerah di sepanjang saluran primer sering tidak dapat dilayani dengan mudah dengan cara menyadap air dari saluran sekunder. Apabila saluran primer melewati sepanjang garis tinggi daerah saluran primer yang berdekatan harus dilayani langsung dari saluran primer.

e)  Bangunan Irigasi
Keberadaan bangunan ingasi diperlukan untuk menunjang pengambilan dan pengaturan air irigasi Beberapa jenis bangunan irigasi yang sering dijurnpai dalam praktek irigasi antara lain (1) bangunan utama, (2) bangunan pembawa, (3) bangunan bagi, (4) bangunan sadap, (5) bangunanm pengatur muka air, (6) bangunan pernbuang dan penguras serta (7) bangunan pelengkap.
1) Bangunan Utama
Bangunan utama dimaksudkan sebagai penyadap dari suatu sumber air untuk dialirkan ke seluruh daerah irigasi yang dilayani. Berdasarkan sumber airnya, bangunan utarna dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori, (1) bendung, (2) pengambilan bebas, (3) pengambilan dari waduk, dan (4) stasiun pompa.
a)    Bendung adalah adalah bangunan air dengan kelengkapannya yang dibangun melintang sungai atau sudetan yang sengaja dibuat dengan maksud untuk meninggikan elevasi muka air sungai. Apabila muka air di bendung mencapai elevasi tertentu yang dibutuhkan, maka air sungai dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi ke tempat-ternpat yang mernerlukannya. Terdapat beberapa jenis bendung, diantaranya adalah (1) bendung tetap (weir), (2) bendung gerak (barrage) dan (3) bendung karet (inflamble weir). Pada bangunan bendung biasanya dilengkapi dengan bangunan pengelak, peredam energi, bangunan pengambilan, bangunan pembilas , kantong lumpur dan tanggul banjir.
b)   Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibuat ditepi sungai menyadap air sungai untuk dialirkan ke daerah irigasi yang dilayani. Perbedaan dengan bendung adalah pada bangunan pengambilan bebas tidak dilakukan pengaturan tinggi muka air di sungai. Untuk dapat mengalirkan air secara, gravitasi muka air di sungai harus lebih tinggi dari daerah irigasi yang dilayani.
c)    Pengambilan dari waduk. Salah satu fungsi waduk adalah menampung air pada saat terjadi kelebihan air dan mengalirkannya pada saat diperlukan. Dilihat dari kegunaannya, waduk dapat bersifat eka guna dan multi guna. Pada urnumnya waduk dibangun memiliki banyak kegunaan seperti untuk irigasi, pernbangkit listrik, peredam banjir, pariwisata, dan perikanan. Apabila salah satu kegunaan waduk untuk irigasi, maka pada bangunan outlet dilengkapi dengan bangunan sadap untuk irigasi. Alokasi pernberian air sebagai fungsi luas daerah irigasi yang dilayani serta karakteristik waduk.
d)   Stasiun Pompa Bangunan pengambilan air dengan pompa menjadi pilihan apabila upaya-upaya penyadapan air secara gravitasi tidak memungkinkan untuk dilakukan, baik dari segi teknik maupun ekonomis. Salah satu karakteristik pengambilan irigasi dengan pompa adalah investasi awal yang tidak begitu besar namun biaya operasi dan eksploitasi yang sangat besar
2) Bangunan Pembawa

Bangunan pernbawa mempunyai fungsi mernbawa / mengalirkan air dari
surnbemya menuju petak irigasi. Bangunan pernbawa meliputi saluran primer, saluran sekunder, saluran tersier dan saluran kwarter. Termasuk dalam bangunan pernbawa adalah talang, gorong-gorong, siphon, tedunan dan got miring. Saluran primer biasanya dinamakan sesuai dengan daerah irigasi yang dilayaninya. Sedangkan saluran sekunder sering dinamakan sesuai dengan nama desa yang terletak pada petak sekunder tersebut. Berikut ini penjelasan berbagai saluran yang ada dalam suatu sistern irigasi.
a)    Saluran primer membawa air dari bangunan sadap menuju saluran sekunder dan ke petak-petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran primer adalah pada bangunan bagi yang terakhir.
b)   Saluran sekunder membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran primer menuju petak-petak tersier yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan sadap terakhir
c)    Saluran tersier membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran sekunder menuju petak-petak kuarter yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan boks tersier terkahir
d)   Saluran kuarter mernbawa air dari bangunan yang menyadap dari boks tersier menuju petak-petak sawah yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan boks kuarter terkahir
3) Bangunan Bagi dan sadap
Bangunan bagi merupakan bangunan yang terletak pada saluran primer, sekunder dan tersier yang berfungsi untuk membagi air yang dibawa oleh saluran yang bersangkutan. Khusus untuk saluran tersier dan kuarter bangunan bagi ini masingmasing disebut boks tersier dan boks kuarter. Bangunan sadap tersier mengalirkan air dari saluran primer atau sekunder menuju saluran tersier penerima. Dalam rangka penghematan bangunan bagi dan sadap dapat digabung menjadi satu rangkaian bangunan. Bangunan bagi pada saluran-saluran besar pada umumnya mempunyai 3 (tiga) bagian utama, yaitu.
a)      Alat pembendung, bermaksud untuk mengatur elevasi muka air sesuai dengan tinggi pelayanan yang direncanakan
b)      Perlengkapan jalan air melintasi tanggul, jalan atau bangunan lain menuju saluran cabang. Konstruksinya dapat berupa saluran terbuka ataupun gorong-gorong. Bangunan ini dilengkapi dengan pintu pengatur agar debit yang masuk saluran dapat diatur.
c)      Bangunan ukur debit, yaitu suatu bangunan yang dimaksudkan untuk mengukur besarnya debit yang mengalir.
4) Bangunan pengatur dan pengukur
Agar pemberian air irigasi sesuai dengan yang direncanakan, perlu dilakukan pengaturan dan pengukuran aliran di bangunan sadap (awal saluran primer), cabang saluran jaringan primer serta bangunan sadap primer dan sekunder. Bangunan pengatur muka air dimaksudkan untuk dapat mengatur muka air sampai batas-batas yang diperlukan untuk dapat memberikan debit yang konstan dan sesuai dengan yang dibutuhkan. Sedangkan bangunan pengukur dimaksudkan untuk dapat memberi informasi mengenai besar aliran yang dialirkan. Kadangkala, bangunan pengukur dapat juga berfungsi sebagai bangunan pangatur. Beberapa contoh bangunan pengukur debit
5) Bangunan Drainase
Bangunan drainase dimaksudkan untuk membuang kelebihan air di petak sawah maupun saluran. Kelebihan air di petak sawah dibuang melalui saluran pernbuang, sedangkan kelebihan air disaluran dibuang melalui bengunan pelimpah. Terdapat beberapa jenis saluran pembuang, yaitu saluran pembuang kuerter, saluran pernbuang tersier, saluran pernbuang sekunder dan saluran pernbuang primer. Jaringan pembuang tersier dimaksudkan untuk :
a)      Mengeringkan sawah
b)      Mernbuang kelebihan air hujan
c)      Mernbuang kelebihan air irigasi
Saluran pernbuang kuarter menampung air langsung dari sawah di daerah atasnya atau dari saluran pernbuang di daerah bawah. Saluran pernbuang tersier menampung air buangan dari saluran pernbuang kuarter. Saluran pernbuang primer menampung dari saluran pernbuang tersier dan membawanya untuk dialirkan kernbali ke sungai.

6) Bangunan Pelengkap
Sebagaimana namanya, bangunan pelengkap berfungsi sebagai pelengkap
bangunan-bangunan irigasi yang telah disebutkan sebelumnya. Bangunan pelengkap berfungsi sebagai untuk memperlancar para petugas dalam eksploitasi dan pemeliharaan. Bangunan pelengkap dapat juga dimanfaatkan untuk pelayanan umum. Jenis-jenis bangunan pelengkap antara lain jalan inspeksi, tanggul, jernbatan penyebrangan, tangga mandi manusia, sarana mandi hewan, serta bangunan.

6. Kekeringan Lahan
Indonesia merupakan wilayah yang memiliki iklim tropis, dimana hanya memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan kemarau, Indonesia memiliki letak geografis diantara dua benua, dan dua samudra serta terletak di sekitar garis khatulistiwa merupakan faktor klimatologis penyebab banjir dan kekeringan di Indonesia. Posisi geografis ini menyebabkan Indonesia berada pada belahan bumi dengan iklim monsoon tropis yang sangat sensitif terhadap anomali iklim El-Nino Southern Oscillation (ENSO). ENSO menyebabkan terjadinya kekeringan apabila kondisi suhu permukaan laut di Pasifik Equator bagian tengah hingga timur menghangat (El Nino). Berdasarkan analisis iklim 30 tahun terakhir menunjukkan bahwa, ada kecenderungan terbentuknya pola iklim baru yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Dampak terjadinya perubahan iklim terhadap sektor pertanian adalah bergesernya awal musim kemarau yang menyebabkan berubahnya pola tanam karena adanya kekeringan. (Rahayu, Sri.2011).
Ada beberapa penyebab terjadinya kekeringan diantaranya: 1, adanya penyimpangan iklim; 2, adanya gangguan keseimbangan hidrologis dan 3, kekeringan agronomis. Penyimpangan iklim, menyebabkan produksi uap air dan awan di sebagian Indonesia bervariasi dari kondisi sangat tinggi ke rendah atau sebaliknya. Ini semua menyebabkan penyimpangan iklim terhadap kondisi normalnya. Jumlah uap air dan awan yang rendah akan berpengaruh terhadap curah hujan, apabila curah hujan dan intensitas hujan rendah akan menyebabkan kekeringan. Gangguan keseimbangan hidrologis, kekeringan juga dipengaruhi oleh adanya gangguan hidrologis seperti: terjadinya degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) terutama bagian hulu mengalami alih fungsi lahan dari bervegetasi menjadi non vegetasi yang menyebabkan terganggunya sistem peresapan air tanah, kerusakan hidrologis daerah tangkapan air bagian hulu menyebabkan waduk dan saluran irigasi terisi sedimen, sehingga kapasitas tampung air menurun tajam, rendahnya cadangan air waduk yang disimpan pada musim penghujan akibat pendangkalan menyebabkan cadangan air musim kemarau sangat rendah sehingga memicu terjadinya kekeringan.
Kekeringan agronomis, terjadi sebagai akibat kebiasaan petani memaksakan menanam padi pada musim kemarau dengan ketersediaan air yang tidak mencukupi dan petani yang masih mengandalkan sawah tadah hujan sangat berisiko mengalami kekeringan ini. Dampak yang akan terjadi jika terjadi kekeringan pada lahan pertanian khususnya sawah adalah meruginya para petani karena tanaman yang dikelola mati secara lebih luas dapat mengancan ketahanan pangan nasional indonesia. Menurut (Rahayu, Sri.2011) upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekeringan antara lain :
1)        gerakan masyarakat melalui penyuluhan
2)        membangun/rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi
3)        membangun/ rehabilitasi/pemeliharaan konservasi lahan dan air
4)        memberikan bantuan sarana produksi (benih dan pupuk, pompa spesifik lokasi)
5)        mengembangkan budidaya hemat air dan input (menggunakan metode SRI/PTT).

Dengan penyuluhan yang diberikan kepada petani tentang optimalisasi pemanfaatan air dan juga peningkatan penerapan irigasi ditambah dengan bantuan sarana produksi seperti benih, pupuk hingga pompa air diharapkan mampu menguranggi dampak dari permasalahan kekeringan pada lahan sawah. Sehingga terjadi peningkatan sawah irigasi di daerah-daerah yang dapat meningkatkan hasil produksi pangan Indonesia.

7. Permasalahan Kekeringan Lahan Pertanian di Aceh
Aceh merupakan salah satu provinsi yang berada di wilayah paling ujung barat Indonesia, dimana sistem pertanian belum berkembang secara optimal. Petani di Aceh yang mengusahakan padi dan palawija yang merupakan kebutuhan pokok rakyat mayoritas masih mengandalakan pertanian tadah hujan yang tentunya terdapat berbagai kendala salah satunya adalah jika musim kemarau tiba. Sawah tempat petani bercocok tanam kekurangan air sehingga banyak petani yang gagal panen dan tentu sangat merugikan para petani.
Pada tahun  2013 pemerintah Aceh menargetkan hasil produksi padi 1,971,717 ton, target ini lebih besar dari tahun sebelumnya, guna mencapai target tersebut, Tahun 2013 ini juga pemerintah Aceh mendapat bantuan benih dari pemerintah pusat dan berbagai program telah dirancang, antara lain perluasan areal tanam, program pengendalian hama terpadu, dan program penyuluhan petani. Akan tetapi program peningkatan produksi padi tersebut gagal terealisasi akibat kekeringan yang melanda lahan pertanian di Aceh seperti yang dinyatakan  Rahmad Yuli (2014) mengutip pernyataan  Kepala Dinas Pertanian Aceh, Razali Adami pada Tahun 2014 ini Aceh akan kehilangan 50.455 ton gabah. Diprediksi pula, kehilangan gabah sebesar itu bisa merugikan Aceh hingga Rp 200 miliar. Terdapat Delapan kabupaten dan kota di Provinsi Aceh mengalami kekeringan yang menyebabkan sebanyak 62.737 hektare lahan pertanian gersang.


Gambar 1. Kekeringan lahan pertanian Aceh
Sumber : www.republika.co.id
Padahal jika dilihat sumber air cukup banyak di Aceh untuk mengaliri pertanian dan perkebunan. Akibat kurangnya pemanfaatan irigasi dan hanya mengandalkan air  hujan mengakibatkan kurang maksimalnya produktivitas yang di dapat, bahkan dapat menyebabkan gagal panen.  Bukan merupakan hal yang aneh jika Aceh masih sangat bergantung dengan daerah tetangganya dalam hal pemenuhan pangan.
Anggota Komisi IV DPR RI, M Ali Yakob menyebutkan, kemarau yang melanda Aceh akhir-akhir ini seharusnya tak perlu berdampak buruk terhadap pertanian, karena pada dasarnya provinsi tidak mengalami kekurangan air. “Jumlah sumber air cukup banyak di Aceh. Hanya saja selama ini, dunia pertanian dan perkebunan masih dihadapkan dengan persoalan terbatasnya sistem irigasi,”Mardira Salman (2014).  Aceh memiliki 11 jaringan irigasi utama namun jaringan pendukungnya hingga ke sawah-sawah warga belum memadai. Bahkan sepertinya beberapa jaringan utama itu juga perlu perbaikan lagi. Untuk mengatasi permasalahan kekeringan pada lahan pertanian Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten/kota untuk dapat memberdayakan pompa air,  Ini bisa diupayakan segera oleh pemerintah sehingga petani tak perlu harus mengeluarkan biaya untuk mendapatkan akses air untuk lahan pertaniannya.
Selain daripada itu,banyak juga faktor yang dapat mempengaruhi naik turunnya rata-rata produksi padi per hektar,pertanian merupakan tumpuan 60% masyarakat Aceh, Irigasi menjadi permasalahan besar yang dialami oleh petani Aceh. Pada tahun 2012 daerah-daerah yang mengalami kekeringan di antaranya Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen dan Aceh Utara dan Aceh Selatan, sehingga banyak tanaman padi yang gagal panen, jika permasalahan ini tidak segera diselesaikan maka target tersebut tidak akan tercapai dan Aceh gagal menjadi lumbung Padi nasional. Akibat belum optimalnya infrastruktur pengairan di Aceh, pemerintah Aceh berencana  mengalihkan dana pembangunan kereta api ke irigasi, program ini menjadi angin segar bagi para petani Aceh, (Mahlianurrahman,2013).
C. METODE
Metode pengumpulan data dalam makalah ini  di dapatkan dari studi pustaka / dokumentasi yang dirangkum dari berbagai sumber seperti buku, jurnal penelitian dan internet.

D. PEMBAHASAN
1 Studi Khasus Kekeringan di Aceh
Aceh Merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang mengalami kekeringan. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPN) Aceh masuk ke dalam zona merah untuk wilayah yang mengalami bencana kekeringan di Indonesia.


Gambar 2. Peta Zonasi Ancaman Bencana Kekeringan
Sumber : BNPN. 2010
Dari gambar di atas dapat dilihat Aceh yang berada di wilayah paling utara pulau Sumatera mendapat zonasi warna merah, yang berarti bencana kekeringan paling rawan terjadi di daerah ini. Ini tentu akan sangat berdampak keberbagai sektor khususnya pertanian. Jika tidak diantisipasi dengan baik masalah kekeringan tentu akan menjadi permasalahan serius di daerah ini. Kecamatan Kluet Timur salah satu wilayah di Aceh yang tiap tahunnya dilanda kemarau, sehingga para petani tidak bisa bercocok tanam dua kali selama satu tahun, hal ini di akibatkan kurangnya pasokan air dan tidak baiknya infrastruktur irigasi. Proyek pembangunan bendungan irigasi di Kluet Timur mulai dikerjakan Oktober 2011. Tapi sampai saat ini belum bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga ribuan hektare lahan persawahan masyarakat di kawasan itu tidak sebaik produksi daerah lain. Permasalahan inilah yang selalu dialami para petani di Kluet Timur.
Khasus serupa juga terjadi di Aceh Pidie dan sekitaran Aceh Besar, seperti yang terjadi di Darussalam Aceh Besar dimana sawah petani kering dan tanahnya mulai pecah-pecah, petani terancam gagal panen. Jika tetap ingin mengalirkan air ke sawahnya para petani harus mengeluarkan biaya untuk menyewa pompa air. Ini membuktikan bahwa di Aceh terdapat sumber air tetapi pemanfaatanya saja yang belum dioptimalkan untuk irigasi pertanian. Aceh memiliki cukup banyak air untuk dijadikan irigasi seperti yang dikatakan (Nashruddin Boy.2013) “Sedikitnya saat ini Aceh punya 11 jaringan irigasi utama. Tapi jaringan pendukungnya hingga ke sawah-sawah warga belum memadai. Bahkan sepertinya beberapa jaringan utama itu juga perlu perbaikan lagi. Selain itu, baik irigasi maupun sejumlah waduk juga dihadapkan dengan penumpukan sedimen di dasarnya”. Jika tidak dibenahi ini tentu akan menjadi pemicu gagal panen dan semakin menyengsarakan para petani.

Tabel 1. Luas Total Lahan Sawah dan Sawah Irigasi
No
Kabupaten/Kota
DistrictMunitipality
Tahun 2012
Luas Sawah Keseluruhan
Luas Sawah Irigasi
Luas yang belum Irigasi
1
Kab. Simeuleu
7,390,68
493,51
6.897,17
2
Kab. Aceh Singkil
2.431,11
682,48
1.748,63
3
Kab. Aceh Selatan
17.778,57
5.996,01
11.782,56
4
Kab. Aceh Tenggara
15.695,44
5.495,74
10.199,7
5
Kab. Aceh Timur
31.861,43
14.461,52
17.399,91
6
Kab. Aceh Tengah
5.952,68
5.366,94
585,77
7
Kab. Aceh Barat
11.885,90
432,30
11.453,6
8
Kab. Aceh Besar
25.784,87
16.050,53
9.734,34
9
Kab. Pidie
29.162,92
22.083,80
7.079,12
10
Kab. Bireuen
17.827,41
13.209.21
4.618,2
11
Kab. Aceh Utara
41.320,00
38.203,26
3.116,74
12
Kab. Aceh Barat Daya
18.718,83
18.558,17
160,66
13
Kab. Gayo Lues
4.758,50
4.673,47
85.03
14
Kab. Aceh Tamiang
18.517,06
1.265,53
17.251,53
15
Kab. Nagan Raya
18.517,06
7.872,69
10.644,37
16
Kab. Aceh Jaya
12.669,96
3.018,73
9.651,23
17
Kab. Bener Meriah
3.910,67
3.896,95
13,72
18
Kab. Pidie Jaya
8.761,82
7.172,54
1589,28
19
Kota Banda Aceh
56,12
38,26
17,86
20
Kota Sabanng
-
-
-
21
Kota Langsa
1.668,72
-
-
22
Kota Lhokseumawe
1.489,64
1.266,89
222,75
23
Kota Subulussalam
1.815,99
27,31
1788,68

Aceh
297.336,38
170.265,84
127.070,54
Sumber : Statistik Lahan Pertanian 2008-2012
            Dari data di atas yang dapat disimpulkan bahwa sawah yang teririgasi di Aceh Hanya 170.265,38 ha dari total 297.336,38 ha sawah yang ada atau hanya 57% saja yang memanfaatkan irigasi. Selebihnya lahan sawah hanya mangandalkan air hujan saja yang tentunya sangat rentan dengan kekeringan di musim kemarau. Maka tidaklah mengherankan program peningkatan produksi padi yang direncanakan pemerintah pada tahun 2013 mengalami kegagalan. Jika ingin meningkatkan produksi hasil pertanian khusunya padi maka infrastruktur juga harus ikut ditingkatkan terutama pengairan seperti yang kita ketahui air merupakan kebutuhan pokok tanaman untuk dapat tumbuh dan berkembang.
Irigasi yang baik untuk pemenuhan air pertanian adalah satu liter per detik untuk mengaliri 1 hektare lahan sawah. Jadi kalau ada sungai yang memiliki debit air minumum pada musim kemarau hingga 2 meter kubik per detik, maka akan mampu mengairi sawah seluas 2000 hektare. Jika permasalahan pengairan ini tidak dapat diselesaikan maka target produksi padi di Provinsi Aceh pada tahun 2013 tidak akan tercapai, akibat dampak terjadinya kemarau panjang yang menyebabkan areal sawah di sejumlah kabupaten lumbung padi mengalami kekeringan. Saat ini Thailand masih bertengger sebangai pengekspor beras terbesar di dunia. Setelah itu diikuti oleh Vietnam, survei ini bisa saja berubah jika semua permasalahan petani Aceh dapat di minimalisir. Semoga sistem pompa air tenaga surya dapat digunakan petani Aceh dan harapan para petani ini mendapat perhatian pemerintah provinsi Aceh.
2. Solusi Permasalahan Irigasi dengan Sistem Pompa Air Tenaga Surya
            Seperti yang sudah dibahas dibagian atas bahwa Aceh salah satu daerah yang mengalami kekeringan pada lahan pertanian dikarenakan para petani masih mengandalkan sawah tadah hujan yang airnya hanya di dapat dari air hujan dan juga karena tidak terdapatnya jaringan irigasi pendukung yang mampu mengalirkan airnya  hingga ke sawah-sawah. Dengan permasalahan seperti itu masih banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengairai lahan pertanian di Aceh, seperti air sungai dapat dialirkan langsung kelahan pertanian, menyiram satu persatu tanaman, menggunakan pompa air tenaga surya, dan sebagainya. Sistem Pompa Air Tenaga Surya (PATS) ditemukan pada tahun 1941, dan dan telah dikembangkan oleh Alpen Steel. Pompa air tenaga surya lebih cocok digunakan disekitar wilayah yang kekurangan air,
Karena topografi wilayah Aceh pada umumnya terdapat di dataran rendah maka PATS sumber airnya dapat diambil dari sumur gali, sumur bor. Wilayah yang berada dekat dengan sungai dapat mengambil sumber airnya dari sungai, dan sebagainya. PATS sangat dapat diandalkan dan tidak ada perawatan khusus yang harus dilakukan, karena sistem ini tidak menggunakan baterai sebagai media penyimpanan energi, tidak membutuhkan tenaga operator untuk mengoperasikan sistem ini dan memiliki usia pakai yang jauh lebih panjang, tidak membutuhkan bahan bakar minyak sehingga tidak memerlukan iuran dari para pengguna air. Maka,Teknologi pompa air tenaga surya ini selain ramah lingkungan, biaya operasional cukup rendah namun lebih dari itu mampu memasyarakatkan teknologi di kalangan masyarakat terpencil, selama matahari bersinar pompa ini akan terus mengeluarkan air, untuk mengatasi kekurangan air di saat matahari tidak bersinar maka perlunya bak penampungan sementara sehingga kebutuhan air tetap dapat dipasok, untuk lebih lanjut Aceh dapat mencontoh California.
Tahun 1983 California, Amerika Serikat membangun pembangkit listrik Tenaga surya terbesar di dunia, selain California, Negara lain seperti Afrika Selatan, Jepang, Cina, Denmark, Jerman juga telah menggunakan sistem tenaga surya. Dimana California telah menggunakan tenaga surya untuk memenuhi seluruh kebutahan dan aktifitas masyrakatnya. Di Hamburg, lampu-lampu di taman dan kebun, lampu senter, TV, lampu besar di depan pintu utama, jam dinding, lemari es, didalam atau di luar ruangan,begitu juga untuk memenuhi pasokan air di negara tersebut dan masih banyak lagi, semua itu menggunakan tenaga surya, sementara di Aceh sendiri tak terlihat orang menggunakan tenaga surya, padahal tenaga surya dapat menghemat APBD dan Ramah Lingkungan, jika sistem ini didorong oleh pemerintah Aceh maka tidak mustahil Aceh menjadi salah satu lumbung padi nasional.
Umumnya wilayah Aceh merupakan daerah yang berada di dataran rendah dimana air tanah sangat mudah didapatkan serta penyinaran matahari yang sangat optimal. Saya rasa wilayah seperti ini sangat cocok menggunakan sistem pompa air tenaga surya, energi pompa berasal dari cahaya matahari, maka volume air yang dihasilkan oleh sistem pemompaan lebih banyak saat kemarau, sedangkan saat musim hujan volume air yang dipompa lebih sedikit.
Gambar 3. Sistem kerja Pompa Air tenaga Surya
Sumber : Jayasurya teknik.Blogspot

Cara kerja pompa air dengan tenaga surya ini pun relatif lebih mudah dipahami. Yakni energi panas dari matahari ditampung lewat plat-plat dari aluminium di sebuah lapangan terbuka.  Energi panas yang ada di plat kemudian dialirkan ke baterai pompa sehingga pompa bisa dinyalakan sewaktu-waktu. Diuraikan menurut (Adeka Larungki, 2014).Sistem pompa air tenaga surya terdiri dari 3 komponen utama, diantaranya :
1.        Solar panel berfungsi metubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik yang digunakan untuk menjalankan pompa
2.            Motor controller, berfungsi untuk mengatur energi listrik yang dihasilkan agar dapat dimanfaatkan untuk menggerakan pompa.
3.               Pump Unit, berfungsi untuk merubah energy listrik yang disalurkan oleh motor controller menjadi energi gerak untuk memompa air.
            Dengan dikembangkan sistem pompa air tenaga surya diharapkan dapat mengatasi masalah krisis air untuk pertanian, dengan cara memaksimalkan ketersediaan air yang ada sehingga target produksi beras dapat tercapai.

3. Sumbangsih pada dunia pendidikan
            Dalam pembelajaran geografi Terdapat banyak materi yang dapat diambil sebagai bahan pembelajaran yang dapat disampaikan seorang guru kepada siswa di sekolah mulai dari siklus hidrologi yang berada pada materi biosfer di kelas x hingga negara maju dan berkembang yang berada di kelas xii yang sangat berhubungan dengan judul yang dibahas dalam makalah ini. penerapan peningkatan teknologi pertanian dalam bidang pendidikan. Salah satu contohnya dapat diambil dari materi di atas, yaitu irigasi. Guru dapat membawa siswa langsung ke salah satu lokasi irigasi, di tempat tersebut guru langsung menjelaskan bagaimana air dapat dimanfaatkan dalam teknologi pertanian serta permasalahan yang terjadi pada penerepan teknologi pertanian. Irigasi merupakan salah satu pengunaan metode teknologi dalam pertanian sebagai salah satu upaya yang dilakukan manusia untuk mengaliri lahan pertanian.
            Guru menjelaskan tujuan dan fungsi dibuatnya irigasi di suatu wilayah misalnya untuk: efisiensi pemanfaatan air, meningkatkan produksi pangan terutama beras, memasok kebutuhan air tanaman,dll. Setelah guru menyampaikan tujuan dan fungsi dasar dari irigasi, siswa dapat memahami metode teknologi dalam pertanian yang berkaitan dengan air. Guru dapat mengembangkan pemanfaatan teknologi pertanian ke arah yang lebih luas, guru dapat memberikan contoh perbandingan teknologi pertanian dari negara berkembang sampai ke negara maju dengan menggunakan multimedia (video/gambar) pembelajaran. Dan menjelaskan bagaimana teknologi pertanian dapat mempengaruhi hasil produksi serta kualitas hasil pertaniannya sehingga akan berdampak pada perekonomian negara yang bersangkutan.
            Siswa yang sudah diberikan pengetahuan dasar tentang penerapan metode teknologi pertanian dalam hal ini irigasi serta melihat perbandingan penerapan teknologi pertanian di negara maju dan negara berkembang diminta untuk menganalisis permasalahan dan kendala apa yang menjadi penghambat negara Indonesia sulit untuk meningkatakan penerapan teknologi dalam pertanian.
a) Rubrik Penilaian  Pada Materi hidrologi (pemanfaatan air irigasi)
1. Penilaian Sikap
Penilaian sikap terdiri dari penilaian sikap spiritual dan sikap sosial (Teliti). Lembaran ini diisi oleh guru/peserta didik/teman peserta didik, untuk menilai sikap peserta didik. Berilah tanda cek (√) pada kolom skor sesuai sikap yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria (rubrik) sebagai berikut :
4 = selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan
3 = sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan
Kadangkadang tidak melakukan
2 = kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering
tidak melakukan
1 = tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan  Skor akhir
menggunakan skala 1 sampai 4 Perhitungan skor akhir menggunakan
rumus : Skor Akhir  x 4
Contoh : Skor diperoleh 14, skor tertinggi 4 x 5 pernyataan = 20, maka skor akhir :  x 4 = 2,8
Peserta didik memperoleh nilai :
Sangat Baik : apabila memperoleh skor 3.20 – 4.00 (80 – 100)
Baik : apabila memperoleh skor 2.80 – 3.19 (70 – 79)
Cukup : apabila memperoleh skor 2.40 – 2.79 (60 – 69)
Kurang : apabila memperoleh skor kurang 2.40 (kurang dari 60%)

Tabel 1. Penilaian Sikap spritual



Tabel 2. Sikap Sosial
2. Penilaian Pengetahuan

No
Soal Tertulis
Kunci Jawaban
Skor
1
Apa yang dimaksud dengan Irigasi ?
Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pengembangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi
air bawah tanah, irigasi pompa dan irigasi tambak.

2
Jelaskan sejarah perkembangan irigasi di
Indonesia
Sistem irigasi di Indonesia sudah mulai dikenal jaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Namun pada saat tersebut belum ada catatan
yang dibuat sehingga pekembangan system irigasi belum terdokumentasi dengan baik. Sejarah perkembangan
irigasi di Indonesia dapat dibedakan menjadi 5 priode, yaitu (1) masa sebelum penjajahan, (2) masa penjajahan, (3) masa revolusi atau pasca colonial, (4) Masa orde baru, (5) masa pasca orde baru atau reformasi.


3
Jelaskan Fungsi, Tujuan
dan manfaat irigasi
Fungsi irigasi adalah menambah (suplesi) kekurangan air pada lahan petanian yang diperoleh dari air hujan atau air tanah, karena jumlah air yang diberikan kepada tanaman tidak mencukupi kebutuhan tanaman.
Jika penambahan air melalui irigasi tidak dilakukan, maka pertumbuhan tanaman tidak akan optimal, dan tidak akan menghasilkan panen sesuai dengan yang diharapkan. Jika
jumlah atau volume curah hujan atau air tanah yang dapat diambil tanaman sudah mencukupi kebu-tuhannya, maka irigasi tidak diperlukan lagi.
Adapun tujuan irigasi pada suatu daerah adalah upaya untuk penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian, dari sumber
air ke daerah yang memerlukan
dan mendistri-busikan secara teknis dan sistematis. Sedangkan manfaat yang diperoleh dari kegiatan iri-gasi
adalah (1) untuk membasahi tanah, yaitu membantu pembasahan tanah pada daerah yang curah hujannya kurang atau tidak menentu, (2) untuk
mengatur pembasahan tanah, yang dimaksudkan agar daerah pertanian dapat memperoleh air sepanjang waktu, baik pada musim kemarau mupun pada musim penghujan, (3) untuk meningkatkan kesuburan tanah, yaitu dengan mengalirkan air
yang dan lumpur yang mengandung unsur hara terlarut yang dibutuhkan
tanaman pada daerah pertanian sehingga daerah tersebut tanahnya mendapat tambahan unsur-unsur hara, (4) untuk kolmatase, yaitu meninggi-kan tanah yang di dataran  rendahseperti rawa-rawa dengan
endapan lumpur yang terbawa oleh air irigasi, (5) untuk penggelontoran air di kota, yaitu dengan menggunakan air irigasi, kotoran/sampah di kota digelontor ke tempat yang telah disediakan dan selanjutnya dibasmi secara alamiah

4
Jelaskan klasifikasi system
irigasi
Sistem irigasi dapat dikelompokkan
menjadi bebrapa jenis
antara lain :
 Sistem Irigasi Permukaan
(Surface Irrigation System)
 Sistem Irigasi Bawah
Permukaan (Sub Surface
Irrigation System)
 Sistem Irigasi Curah
(sprinkler irrigation)
 Sistem irigasi tetes (Drip
Irrigation)

5
Hal-hal yang diatur dalam undang-undang irigasi
Hal-hal yang di atur dalam undang-undang irigasi adalah :
Prinsip pengelolaan Irigasi
 Kelembagaan Pengelolaan
Irigasi
 Pemberdayaan
Perkumpulan Petani
Pemakai Air (P3A)
 Konsepsi Kelembagaan
Pengelolaan Irigasi
 Kebijakan Pengelolaan
Irigasi
 Pengelolaan Air Irigasi
 Pembangunan Jaringan
Irigasi
 Pengelolaan Jaringan Irigasi
 Inventarisasi Aset Irigasi
 Pembiayaan irigasi
Alih fungsi lahan beririgasi

Sumber : buku irigasi dan drainase

E. PENUTUP
1 Kesimpulan
Indonesia merupakan negara agraris yang penduduknya mayoritas bekerja pada sektor pertanian. Pengembangan pada sektor pertanian menjadi sangat penting dilakukan untuk meningkat perekonomian di Indonesia. Pertanian adalah bagian dari produksi atau usaha yang dilakukan oleh petani untuk memenuhi kebutuhan ekonominya dengan mengelola tumbuhan/tanaman dan lingkungan.
Dalam bidang pertanian, air sangat berperan penting sebagai kebutuhan tanaman. Air merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman padi di sawah. Masalah pengairan bagi tanaman padi sawah merupakan salah satu faktor penting yang harus mendapat perhatian penuh demi mendapat hasil panen yang akan datang. Salah satu teknologi industri dalam pertanian yang sangat berhubungan dengan air adalah irigasi. Irigasi adalah menyalurkan air yang perlu untuk petumbuhan tanaman ke tanah yang diolah dan mendistribusinya secara sistematis. Terdapat beberapa jenis pembagian irigasi menurut proses pengaliran airnya yaitu : irigasi permukaan, irigasi lokal, irigasi penyemprotan, iragis tradisional dengan ember, dan irigasi pompa air.
Aceh merupakan salah satu wilayah agraris yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Pemerintah Aceh memiliki program peningkatan produksi padi, tetapi program tersebut sulit berjalan karena beberapa wilayah lumbung padi di Aceh mengalami kekeringan. Lahan sawah di Aceh hanya 57% yang menggunakan irigasi ini tentu sangat rentan dengan kekeringan yang dapat menyebabkan kegagalan panen. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan sistem pompa air tenaga surya.
Sistem pompa air tenaga surya adalah sistem pompa yang airnya dapat diambil dari sumur gali, sumur bor, danau dan sebagainya dan dialirkan kelahan pertanian dengan mengguanakan pompa air yang energinya didapatkan dari sinar matahari. sistem ini dan memiliki usia pakai yang jauh lebih panjang, tidak membutuhkan bahan bakar minyak sehingga tidak memerlukan iuran dari para pengguna air. Maka,Teknologi pompa air tenaga surya ini selain ramah lingkungan, biaya operasional cukup rendah namun lebih dari itu mampu memasyarakatkan teknologi di kalangan masyarakat terpencil

2. Saran
            Penerapan teknologi dalam bidang pertanian sangat penting untuk dilakukan dalam upaya meningkatkan hasil produktivitas dan mengoptimalkan pengelolaan dalam bidang pertanian. Pemerintah Aceh harus memperbaiki infrastruktur pengairan ke lahan sawah petani untuk mencegah dari kekeringan. Pemerintah bisa menerapakan sistem pompa air tenaga surya untuk mengairi lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Karena lebih efisien tanpa bahan bakar dan juga bisa digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

Daftar Pustaka

Adeka Larungki. 2014. Cara Kerja Sistem Pompa Air Tenag Surya. [Online]. Diakses pada 18 November 2014, dari javasuryateknik.blogspot.
Anonim. 2014. Pembangunan Pertanian. [Online]. Diakses pada 29 Oktober 2014, dari www.id.wikipedia.org/wiki/Pembangunan_pertanian.com
Anonim. 2014. Sekilas definisi konsep dan pertanian. [Online].Diakses pada 29 Oktober 2014, dari www. organichcs.com/2014/01/10/sekilas-definisi-konsep-petani-dan-pertanian.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPN),2010. Peta Zonasi Bencana Kekeringan di Indonesia.
Bafdal, Nurpilihan.2012. Pengantar Industri Teknologi Pertanian. Bandung : Unpad Press
Mahlianurrahman. 2013. Irigasi Kunci Keberhasilan Petani Aceh. [Online]. Diakses pada 17 November 2014, dari wismafoba.com
Noor Djauhari. 2006. Geologi Lingkungan. Yogyakarta : PT. Graha Ilmu.
Nurmala, T. Dkk. 2012. Pengantar Ilmu Pertanian. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Peraturan Pemerintah No.77 Tahun 2001 Tentang Irigasi.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2013. Statistik Lahan Pertanian Tahun 2008-2012. Jakarta: Pusat Data dan Sistem informasi Pertanian
Prabowo Agung & Joko Wiyono,2006. Pengelolaan Sistem Irigrasi Mikro Untuk Tanaman Hortikultura dan Palawija. Jurnal Enjiniring Pertanian, IV(2), pp 84.
Rahayu, Sri, 2011. Penyebab Kekeringan dan Upaya Penanggulangan. [Online]. Diakses 27 November 2014, dari www.cybex.deptan.go.id
Rahmad Yuli.2014. Kerugian Aceh Karena Kekeringan Diperkirakan Mencapai 200 Miliar. [Online]. Diakses 19 November 2014, dari www.acehmail.com/2014/08/kerugian-aceh-karena-kekeringan diperkirakan-mencapai-rp-200-miliar/
Sosrodarsono Suyono dan Takeda Kensaku.1978. Hidrologi untuk pengairan. Jakarta: PT Pradnya Paramita
Temang, Kristo. 2013. Sistem Irigasi ditinjau dari cara. [Online]. Diakses pada 31 Oktober 2014, dari www. kristotemang.blogspot.com/2013/05/sistem-irigasi-ditinjau-dari-cara.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air





0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 Dokumentasi Pengetahuan All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.