0
Posted by M Hafizul Furqan
on
06.16
in
Solusi Permasalahan Kekeringan Lahan Pertanian dengan Irigasi Sistem Pompa Air Tenaga Surya
ABSTRAK
Pertanian
merupakan salah satu kegiatan paling mendasar bagi manusia, dan air merupakan
salah satu input pertanian yang sangat penting. Permasalahan kekeringan masih terjadi
dibeberapa wilayah Indonesia sehingga berpengaruh terhadap produktivitas hasil
pertanian. Irigasi merupakan salah satu metode untuk mengatasi masalah kekeringan
dengan cara menyalurkan air ke tanaman petani. Aceh merupakan daerah yang
menargetkan peningkatan produksi padi akan tetapi dibeberapa wilayah yang
menjadi lumbung padi seperti Aceh Besar, Aceh Utara dan Pidie justru mengalami
permasalahan kekeringan. Makalah ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan
kekeringan lahan sawah di Aceh dan mencari solusi untuk mengatasinya. Data di
dapat dari studi kepustakaan, buku, jurnal dan sumber internet yang relevan.
Hasil diketahui bahwa irigasi di Aceh belum dimanfaakan secara optimal ini
terbukti hanya 57% lahan sawah di Aceh yang menggunakan irigasi, masih
terjadinya kekeringan lahan pertanian dibeberapa wilayah Solusi yang dapat
dilakukan adalah dengan menggunakan Pompa Air Tenaga Surya yang sumber airnya dapat diambil dari sumur gali, sumur bor, sungai, danau,
dan sebagainya dengan menggunakan energi matahari sebagai sumber pengeraknya
sehingga lebih efisien. Disarankan untuk pemerintah Aceh khususnya untuk
segera mengatasi masalahan kekeringan dengan meningkatkan infrastruktur irigasi
dan dapat mencoba mengunakan Pompa Air Tenaga Surya sehingga target Aceh
meningkatkan produksi padi biasa tercapai.
Kata Kunci : Irigasi,
Pertanian, Kekeringan, Aceh
A.
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Air
merupakan sebuah kebutuhan yang sangat mendasar yang dibutuhkan manusia
terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard
air dipermukaan bumi, dan ini terbagi
lagi menjadi 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di
daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah dan sebagainya. Hanya 0,001%
berbentuk uap di udara. Air di bumi ini mengalami siklus, Air menguap ke udara
dari permukaan tanah dan laut, berubah menjadi awan sesudah melalui beberapa
proses dan kemudian jatuh sebagai hujan atau salju ke permukaan laut atau
daratan dan ini disebut siklus hidrologi.
Dewasa
ini permasalahan air semakin kompleks ini dapat dirasakan di kota-kota besar di
Indonesia khususnya. Dimana kebutuhan air bersih semakin meningkat yang
berbanding lurus dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk di kota-kota besar.
Eksploitasi besar-besaran oleh industri juga menjadi penyebab krisis air yang
terjadi. Sementara itu masyarakat masih beranggapan bahwa air bersih masih
tersedia dalam jumlah yang tidak terbatas. Masyarakat masih belum paham
terhadap fakta bahwa air besih merupakan sumberdaya yang saat ini mengalami
kelangkaan ini tercermin dari ketidakefesienan pemakaian air serta tingginya
pencemaran air. Ini tentu akan menjadi permasalahan serius karena seperti yang
sudah dibahas di atas air merupakan kebutuhan mendasar hampir diseluruh aspek
baik kegiatan rumah tangga hingga kegiatan perekonomian.
Pertanian
merupakan salah satu kegiatan perekonomian yang paling banyak digeluti oleh
penduduk Indonesia, dan air merupakan salah satu input pertanian yang sangat
penting. Sumber air permukaan sampai saat ini menjadi andalan untuk penyediaan
air irigasi. Namun tidak semua daerah yang memiliki lahan pertanian dapat
dilayani dengan irigasi teknis yang bersumber dari air permukaan tersebut.
Beberapa wilayah di Indonesia masih mengandalkan air hujan untuk usaha
pertanian seperti pada sawah tadah hujan. Ini semua akibat dari masih kurangnya
pengetahuan masyarakat Indonesia dalam pemanfaatan teknologi dalam bidang
pertanian .
Masalah
kekeringan menjadi kendala dibeberapa daerah di Indonesia, salah satunya adalah
Aceh. Wilayah yang memiliki program peningkatan produksi padi ini terhambat
oleh masalah kekeringan, padahal terdapat cukup banyak sumber air di daerah
ini. hal ini tentu sangat menyulitkan para petani dan juga mewujudkan program
dari pemerintah. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan
menggunakan metode irigasi, yaitu metode yang digunakan untuk menyalurkan air
ke sawah para petani. Mengapa terjadi kekeringan lahan sawah petani di Aceh dan
metode irigasi bagaimanakah untuk mengatasi permasalahan tersebut? Maka dari
latarbelakang tersebut makalah ini akan membahas mengenai “Pemanfaatan Irigasi untuk mengatasi kekeringan lahan pertanian”.
2.
Rumusan Masalah
1.
Mengapa terjadi permasalahan kekeringan
lahan pertanian di Aceh?
2. Metode bagaiamanakah yang dapat
dilakukan untuk mengatasi permasalahan kekeringan lahan pertanian di Aceh?
3.
Tujuan
1.
Mengetahui masalah kekeringan lahan
pertanian di Aceh
2. Mengetahui metode yang dapat dilakukan
untuk mengatasi permasalahan kekeringan lahgan pertanian di Aceh
B. LANDASAN TEORI
1.
Irigasi
Menurut Suyono Sosrodarsono
(1976:216) Irigasi adalah menyalurkan air yang perlu untuk petumbuhan tanaman
ke tanah yang diolah dan mendistribusinya secara sistematis.. Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian.
Dalam dunia modern, saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan
manusia. Perancangan irigasi disusun terutama berdasarkan
kondisi-kondisi meteorologi di daerah bersangkutan dan kadar air yang
diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Prabowo & Wiyono (2006) menyatakan irigasi adalah salah satu
komponen penting dalam mekanisme pertanian dalam peningkatan efisiensi dan
produksi pertanian. Melalui perancangan sistem irigasi yang memperhatikan
aspek-aspek kondisi tanah, kebutuhan iklim mikro, maka efisiensi pengunaan air
dapat ditingkatkan yang selanjutnya akan meningkatkan produktivitas hasil
pertanian.
Pada zaman
dahulu, jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai
atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mengalirkan air tersebut ke
lahan pertanian. Namun demikian, irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa
air dengan menggunakan wadah kemudian menuangkan pada tanaman satu per satu.
Untuk irigasi dengan model seperti ini di Indonesia biasa disebut menyiram. Suyono
Sosrodarsono (1976:20) menyatakan bahwa dalam menetapkan rancangan irigasi,
diperlukan survey dan penyelidikan berturut-turut sebagai berikut :
a. Data
meteorologi : Untuk penentuan tahun/periode dasar bagi rancangan irigasi harus
dikumpulkan data curah hujan dengan jangka waktu yang sepanjang mungkin.
Disamping curah hujan, diperlukan juga peyelidikan evapotranspirasi, kecepatan
angin, arah angin, suhu udara, jumlah jam penyinaran matahari, kelembaban dan
lain-lain.
b. Penyelidikan
debit sungai : data hidrologi sungai yang menjadi sumber utama air untuk
irigasi harus diselidiki/dikumpulkan selama lebih dari 10 tahun, terutama data
debit air biasa/normal, debit air rendah, debit air musim kering dan lain-lain.
c. Survey
air tanah : jika diperkirakan bahwa air tanah itu dapat dipergunakan sebagai
sumber air untuk irigasi, maka perkiraan variasi bulanan dari volume air tanah
yang ada itu harus didahului oleh survey geologi dan observasi selama setahun
dari muka air tanah.
2.
Jenis-Jenis Irigasi
Terdapat
beberapa jenis pembagian irigasi menurut proses pengaliran airnya diantaranya
adalah :
a) Irigasi Permukaan
Irigasi
Permukaan merupakan sistem irigasi yang menyadap air langsung
di sungai
melalui bangunan bendung maupun melalui bangunan
pengambilan
bebas (free intake) kemudian air irigasi dialirkan secara
gravitasi
melalui saluran sampai ke lahan pertanian. Di sini dikenal saluran
primer,
sekunder, dan tersier. Pengaturan air ini dilakukan dengan pintu
air.
Prosesnya adalah gravitasi, tanah yang tinggi akan mendapat air lebih
dulu.
b)
Irigasi Lokal
Sistem ini air distribusikan dengan cara pipanisasi.
Di sini juga berlaku
gravitasi, di mana lahan yang tinggi mendapat air
lebih dahulu. Namun air
yang disebar hanya terbatas sekali atau secara lokal.
c)
Irigasi dengan Penyemprotan
Penyemprotan biasanya dipakai penyemprot air atau sprinkle.
Air yang
disemprot akan seperti kabut, sehingga tanaman
mendapat air dari atas,
daun akan basah lebih dahulu, kemudian menetes ke
akar.
d)
Irigasi Tradisional dengan
Ember
Di sini diperlukan tenaga kerja secara perorangan yang
banyak sekali. Di
samping itu juga pemborosan tenaga kerja yang harus
menenteng ember.
e)
Irigasi Pompa Air
Air diambil
dari sumur dalam dan dinaikkan melalui pompa air, kemudian
dialirkan
dengan berbagai cara, misalnya dengan pipa atau saluran. Pada
musim
kemarau irigasi ini dapat terus mengairi sawah
3. Tujuan Irigasi
Tentunya
setelah menetapkan rancangan irigasi pastilah memiliki tujuan pembangunan
irigasi. Secara umum tujuan irigasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu, tujuan
langsung dan tujuan tidak langsung.
a)
Tujuan Irigasi langsung
Tujuan
irigasi secara langsung adalah membasahi tanah, agar dicapai suatu kondisi
tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman dalam hubungannya dengan prosentase
kandungan air dan udara diantara butir-butir tanah. Pemberian air dapat juga
mempunyai tujuan sebagai pengangkut bahan-bahan pupuk untuk perbaikan tanah.
b)
Tujuan irigasi
secara tidak langsung
Tujuan
irigasi secara tidak langsung adalah pemberian air yang dapat menunjang usaha
pertanian melalui berbagai cara antara lain, mengatur suhu tanah, membersihkan
tanah, memberantas hama, mempertinggi permukaan air tanah, dan lain-lain.
4. Jaringan Irigasi
Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan
bangunan yang diperlukan untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan,
pengambilan, pembagian, pemberian dan penggunaannya. Berkaitan dengan sistem
irigasi. Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi jaringan utama dan
jaringan tersier. Jaringan utama meliputi bangunan, saluran primer dan saluran
sekunder. Sedangkan jaringan tersier terdiri dari bangunan dan saluran yang
berada dalam petak tersier. Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan air dari
suatu jarigan irigasi disebut dengan Daerah Irigasi.
a)
Klasifikasi Jaringan Irigasi
Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran, serta
kelengkapan fasilitas, jaringan irigasi dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga)
jenis, yaitu (1) jaringan irigasi sederhana, (2) jaringan irigasi semi teknis
dan (3) jaringan irigasi teknis. Karakteristik masing-masing jenis jaringan
diperlihatkan pada di bawah ini.
|
|
Klasifikasi
Jaringan Irigasi
|
||
|
Teknis
|
Semi Teknis
|
Sederhana
|
|
|
Bangunan Utama
|
Bangunan Permanen
|
Bangunan
permanen atau semi permanen
|
Bangunan
sementara
|
|
Kemampuan
dalam mengukur dan mengatur debit
|
Baik
|
Sedang
|
Tidak mampu
mengatur/mengukur
|
|
Jaringan
saluran
|
Saluran
pemberi dan pembuang terpisah
|
Saluran
pemberi dan pembuang tidak sepenuhnya terpisah
|
Saluran
pemberi dan pembuang menjadi satu
|
|
Petak tersier
|
Dikembangkan
sepenuhnya
|
Belum
dikembangkan dentitas bangunan tersier jarang
|
Belum ada
jaringan terpisah yang dikembangkan
|
|
Efisiensi
secara keseluruhan
|
50-60%
|
40-50%
|
<40%
|
|
Ukuran
|
Tidak ada batasan
|
<2000
Hektar
|
<500 hektar
|
Sumber
: Standar Perencanaan Irigasi
Jaringan irigasi sederhana biasanya
diusahakan secara mandiri oleh suatu kelompok petani pemakai air, sehingga
kelengkapan maupun kemampuan dalam mengukur dan mengatur masih sangat terbatas.
Ketersediaan air biasanya melimpah dan mempunyai kemiringan yang sedang sampai
curam, sehingga mudah untuk mengalirkan dan membagi air. Jaringan irigasi
sederhana mudah diorganisasikan karena menyangkut pemakai air dari latar
belakang sosial yang sama. Namun jaringan ini masih memiliki beberapa kelemahan
antara lain, (1) terjadi pemborosan air karena banyak air yang terbuang, (2)
air yang terbuang tidak selalu mencapai lahan di sebelah bawah yang lebih subur,
dan (3) bangunan penyadap bersifat sementara, sehingga tidak mampu bertahan lama.
Jaringan irigasi semi teknis memiliki bangunan sadap
yang permanen ataupun semi permanen. Bangunan sadap pada umumnya sudah
dilengkapi dengan bangunan pengambil dan pengukur. Jaringan saluran sudah
terdapat beberapa bangunan permanen, namun sistem pembagiannya belum sepenuhnya
mampu mengatur dan mengukur. Karena belum mampu mengatur dan mengukur dengan
baik, sistem pengorganisasian biasanya lebih rumit.
Jaringan irigasi teknis mempunyai bangunan sadap
yang permanen. Bangunan sadap serta bangunan bagi mampu mengatur dan mengukur.
Disamping itu terdapat pemisahan antara saluran pemberi dan pembuang.
Pengaturan dan pengukuran dilakukan dari bangunan penyadap sampai ke petak
tersier.
Untuk
memudahkan sistem pelayanan irigasi kepada lahan pertanian, disusun suatu
organisasi petak yang terdiri dari petak primer, petak sekunder, petak tersier,
petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan terkecil.
b)
Petak tersier
Petak tersier terdiri dari beberapa petak kuarter
masing-masing seluas kurang lebih 8 sampai dengan 15 hektar. Pembagian air,
eksploitasi dan perneliharaan di petak tersier menjadi tanggungjawab para
petani yang mempunyai lahan di petak yang bersangkutan dibawah bimbingan
pemeintah. Petak tersier sebaiknya mempunyai batas - batas yang jelas, misalnya
jalan, parit, batas desa dan batas-batas lainnya. Ukuran petak tersier
berpengaruh terhadap efisiensi pemberian air. Beberapa faktor lainnya yang berpengaruh
dalam penentuan luas petak tersier antara lain jumlah petani, topografi dan jenis
tanaman. Apabila kondisi topografi memungkinkan, petak tersier sebaiknya berbentuk
bujur sangkar atau segi empat. Hal ini akan memudahkan dalam pengaturan tata
letak dan perabagian air yang efisien. Petak tersier sebaiknya berbatasan
langsung dengan saluran sekunder atau saluran primer. Sedapat mungkin dihindari
petak tersier yang terletak tidak secara langsung di sepanjang jaringan saluran
irigasi utama, karena akan memerlukan saluran muka tersier yang mebatasi
petak-petak tersier lainnya.
c) Petak
Sekunder
Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier
yang kesemuanya dilayani oleh satu saluran sekunder. Biasanya petak sekunder
menerima air dari bangunan bagi yang terletak di saluran primer atau sekunder.
Batas-batas petak sekunder pada urnumnya berupa tanda topografi yang jelas
misalnya saluran drainase. Luas petak sukunder dapat berbeda-beda tergantung
pada kondisi topografi daerah yang bersangkutan. Saluran sekunder pada umumnya
terletak pada punggung mengairi daerah di sisi kanan dan kiri saluran tersebut
sampai saluran drainase yang membatasinya. Saluran sekunder juga dapat
direncanakan sebagai saluran garis tinggi yang mengairi lereng lereng medan
yang lebih rendah.
d) Petak Primer
Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder
yang mengambil langsung air dari saluran primer. Petak primer dilayani oleh
satu saluran primer yang mengambil air langsung dari bangunan penyadap. Daerah
di sepanjang saluran primer sering tidak dapat dilayani dengan mudah dengan
cara menyadap air dari saluran sekunder. Apabila saluran primer melewati
sepanjang garis tinggi daerah saluran primer yang berdekatan harus dilayani
langsung dari saluran primer.
e)
Bangunan Irigasi
Keberadaan bangunan ingasi diperlukan untuk
menunjang pengambilan dan pengaturan air irigasi Beberapa jenis bangunan
irigasi yang sering dijurnpai dalam praktek irigasi antara lain (1) bangunan utama,
(2) bangunan pembawa, (3) bangunan bagi, (4) bangunan sadap, (5) bangunanm
pengatur muka air, (6) bangunan pernbuang dan penguras serta (7) bangunan
pelengkap.
1) Bangunan Utama
Bangunan utama dimaksudkan sebagai penyadap dari
suatu sumber air untuk dialirkan ke seluruh daerah irigasi yang dilayani.
Berdasarkan sumber airnya, bangunan utarna dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa kategori, (1) bendung, (2) pengambilan bebas, (3) pengambilan dari
waduk, dan (4) stasiun pompa.
a) Bendung
adalah adalah bangunan air dengan kelengkapannya yang dibangun melintang sungai
atau sudetan yang sengaja dibuat dengan maksud untuk meninggikan elevasi muka
air sungai. Apabila muka air di bendung mencapai elevasi tertentu yang
dibutuhkan, maka air sungai dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi ke
tempat-ternpat yang mernerlukannya. Terdapat beberapa jenis bendung,
diantaranya adalah (1) bendung tetap (weir), (2) bendung gerak (barrage) dan
(3) bendung karet (inflamble weir). Pada bangunan bendung biasanya
dilengkapi dengan bangunan pengelak, peredam energi, bangunan pengambilan,
bangunan pembilas , kantong lumpur dan tanggul banjir.
b)
Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibuat
ditepi sungai menyadap air sungai untuk dialirkan ke daerah irigasi yang
dilayani. Perbedaan dengan bendung adalah pada bangunan pengambilan bebas tidak
dilakukan pengaturan tinggi muka air di sungai. Untuk dapat mengalirkan air
secara, gravitasi muka air di sungai harus lebih tinggi dari daerah irigasi
yang dilayani.
c)
Pengambilan
dari waduk. Salah satu fungsi waduk adalah menampung
air pada saat terjadi kelebihan air dan mengalirkannya pada saat diperlukan.
Dilihat dari kegunaannya, waduk dapat bersifat eka guna dan multi guna. Pada
urnumnya waduk dibangun memiliki banyak kegunaan seperti untuk irigasi,
pernbangkit listrik, peredam banjir, pariwisata, dan perikanan. Apabila salah
satu kegunaan waduk untuk irigasi, maka pada bangunan outlet dilengkapi dengan
bangunan sadap untuk irigasi. Alokasi pernberian air sebagai fungsi luas daerah
irigasi yang dilayani serta karakteristik waduk.
d)
Stasiun Pompa
Bangunan
pengambilan air dengan pompa menjadi pilihan apabila upaya-upaya penyadapan air
secara gravitasi tidak memungkinkan untuk dilakukan, baik dari segi teknik
maupun ekonomis. Salah satu karakteristik pengambilan irigasi dengan pompa
adalah investasi awal yang tidak begitu besar namun biaya operasi dan
eksploitasi yang sangat besar
2) Bangunan
Pembawa
Bangunan pernbawa mempunyai fungsi mernbawa /
mengalirkan air dari
surnbemya
menuju petak irigasi. Bangunan pernbawa meliputi saluran primer, saluran sekunder,
saluran tersier dan saluran kwarter. Termasuk dalam bangunan pernbawa adalah
talang, gorong-gorong, siphon, tedunan dan got miring. Saluran primer biasanya dinamakan
sesuai dengan daerah irigasi yang dilayaninya. Sedangkan saluran sekunder sering
dinamakan sesuai dengan nama desa yang terletak pada petak sekunder tersebut. Berikut
ini penjelasan berbagai saluran yang ada dalam suatu sistern irigasi.
a)
Saluran primer membawa air dari bangunan
sadap menuju saluran sekunder dan ke petak-petak tersier yang diairi. Batas
ujung saluran primer adalah pada bangunan bagi yang terakhir.
b)
Saluran sekunder membawa air dari
bangunan yang menyadap dari saluran primer menuju petak-petak tersier yang
dilayani oleh saluran sekunder tersebut. batas akhir dari saluran sekunder
adalah bangunan sadap terakhir
c)
Saluran tersier membawa air dari
bangunan yang menyadap dari saluran sekunder menuju petak-petak kuarter yang
dilayani oleh saluran sekunder tersebut. batas akhir dari saluran sekunder
adalah bangunan boks tersier terkahir
d)
Saluran kuarter mernbawa air dari
bangunan yang menyadap dari boks tersier menuju petak-petak sawah yang dilayani
oleh saluran sekunder tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah
bangunan boks kuarter terkahir
3)
Bangunan Bagi dan sadap
Bangunan bagi merupakan bangunan yang terletak pada
saluran primer, sekunder dan tersier yang berfungsi untuk membagi air yang
dibawa oleh saluran yang bersangkutan. Khusus untuk saluran tersier dan kuarter
bangunan bagi ini masingmasing disebut boks tersier dan boks kuarter. Bangunan
sadap tersier mengalirkan air dari saluran primer atau sekunder menuju saluran
tersier penerima. Dalam rangka penghematan bangunan bagi dan sadap dapat
digabung menjadi satu rangkaian bangunan. Bangunan bagi pada saluran-saluran
besar pada umumnya mempunyai 3 (tiga) bagian utama, yaitu.
a) Alat
pembendung, bermaksud untuk mengatur elevasi muka air sesuai dengan tinggi
pelayanan yang direncanakan
b) Perlengkapan
jalan air melintasi tanggul, jalan atau bangunan lain menuju saluran cabang.
Konstruksinya dapat berupa saluran terbuka ataupun gorong-gorong. Bangunan ini
dilengkapi dengan pintu pengatur agar debit yang masuk saluran dapat diatur.
c) Bangunan
ukur debit, yaitu suatu bangunan yang dimaksudkan untuk mengukur besarnya debit
yang mengalir.
4)
Bangunan pengatur dan pengukur
Agar pemberian air irigasi sesuai dengan yang
direncanakan, perlu dilakukan pengaturan dan pengukuran aliran di bangunan
sadap (awal saluran primer), cabang saluran jaringan primer serta bangunan
sadap primer dan sekunder. Bangunan pengatur muka air dimaksudkan untuk dapat
mengatur muka air sampai batas-batas yang diperlukan untuk dapat memberikan
debit yang konstan dan sesuai dengan yang dibutuhkan. Sedangkan bangunan
pengukur dimaksudkan untuk dapat memberi informasi mengenai besar aliran yang
dialirkan. Kadangkala, bangunan pengukur dapat juga berfungsi sebagai bangunan
pangatur. Beberapa contoh bangunan pengukur debit
5) Bangunan Drainase
Bangunan drainase dimaksudkan untuk membuang
kelebihan air di petak sawah maupun saluran. Kelebihan air di petak sawah
dibuang melalui saluran pernbuang, sedangkan kelebihan air disaluran dibuang
melalui bengunan pelimpah. Terdapat beberapa jenis saluran pembuang, yaitu
saluran pembuang kuerter, saluran pernbuang tersier, saluran pernbuang sekunder
dan saluran pernbuang primer. Jaringan pembuang tersier dimaksudkan untuk :
a) Mengeringkan
sawah
b) Mernbuang
kelebihan air hujan
c) Mernbuang
kelebihan air irigasi
Saluran pernbuang kuarter menampung air langsung
dari sawah di daerah atasnya atau dari saluran pernbuang di daerah bawah.
Saluran pernbuang tersier menampung air buangan dari saluran pernbuang kuarter.
Saluran pernbuang primer menampung dari saluran pernbuang tersier dan
membawanya untuk dialirkan kernbali ke sungai.
6) Bangunan Pelengkap
Sebagaimana namanya, bangunan pelengkap berfungsi
sebagai pelengkap
bangunan-bangunan
irigasi yang telah disebutkan sebelumnya. Bangunan pelengkap berfungsi sebagai
untuk memperlancar para petugas dalam eksploitasi dan pemeliharaan. Bangunan
pelengkap dapat juga dimanfaatkan untuk pelayanan umum. Jenis-jenis bangunan
pelengkap antara lain jalan inspeksi, tanggul, jernbatan penyebrangan, tangga
mandi manusia, sarana mandi hewan, serta bangunan.
6. Kekeringan Lahan
Indonesia merupakan wilayah yang memiliki iklim tropis, dimana hanya
memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan kemarau, Indonesia memiliki letak geografis
diantara dua benua, dan dua samudra serta terletak di sekitar garis
khatulistiwa merupakan faktor klimatologis penyebab banjir dan kekeringan di
Indonesia. Posisi geografis ini menyebabkan Indonesia berada pada belahan bumi
dengan iklim monsoon tropis yang sangat sensitif terhadap anomali iklim El-Nino
Southern Oscillation (ENSO). ENSO menyebabkan terjadinya kekeringan apabila
kondisi suhu permukaan laut di Pasifik Equator bagian tengah hingga timur
menghangat (El Nino). Berdasarkan analisis iklim 30 tahun terakhir menunjukkan
bahwa, ada kecenderungan terbentuknya pola iklim baru yang menyebabkan
terjadinya perubahan iklim. Dampak terjadinya perubahan iklim terhadap sektor
pertanian adalah bergesernya awal musim kemarau yang menyebabkan berubahnya pola
tanam karena adanya kekeringan. (Rahayu, Sri.2011).
Ada beberapa penyebab terjadinya kekeringan diantaranya: 1, adanya
penyimpangan iklim; 2, adanya gangguan keseimbangan hidrologis dan 3, kekeringan
agronomis. Penyimpangan iklim, menyebabkan produksi uap air dan awan di
sebagian Indonesia bervariasi dari kondisi sangat tinggi ke rendah atau
sebaliknya. Ini semua menyebabkan penyimpangan iklim terhadap kondisi
normalnya. Jumlah uap air dan awan yang rendah akan berpengaruh terhadap curah
hujan, apabila curah hujan dan intensitas hujan rendah akan menyebabkan
kekeringan. Gangguan keseimbangan hidrologis, kekeringan juga dipengaruhi oleh
adanya gangguan hidrologis seperti: terjadinya degradasi Daerah Aliran Sungai
(DAS) terutama bagian hulu mengalami alih fungsi lahan dari bervegetasi menjadi
non vegetasi yang menyebabkan terganggunya sistem peresapan air tanah, kerusakan
hidrologis daerah tangkapan air bagian hulu menyebabkan waduk dan saluran
irigasi terisi sedimen, sehingga kapasitas tampung air menurun tajam, rendahnya
cadangan air waduk yang disimpan pada musim penghujan akibat pendangkalan
menyebabkan cadangan air musim kemarau sangat rendah sehingga memicu terjadinya
kekeringan.
Kekeringan agronomis, terjadi sebagai akibat kebiasaan petani memaksakan
menanam padi pada musim kemarau dengan ketersediaan air yang tidak mencukupi
dan petani yang masih mengandalkan sawah tadah hujan sangat berisiko mengalami
kekeringan ini. Dampak yang akan terjadi jika terjadi kekeringan pada lahan
pertanian khususnya sawah adalah meruginya para petani karena tanaman yang
dikelola mati secara lebih luas dapat mengancan ketahanan pangan nasional
indonesia. Menurut (Rahayu, Sri.2011) upaya yang dapat dilakukan untuk
mengatasi kekeringan antara lain :
1)
gerakan
masyarakat melalui penyuluhan
2)
membangun/rehabilitasi/pemeliharaan
jaringan irigasi
3)
membangun/
rehabilitasi/pemeliharaan konservasi lahan dan air
4)
memberikan
bantuan sarana produksi (benih dan pupuk, pompa spesifik lokasi)
5)
mengembangkan
budidaya hemat air dan input (menggunakan metode SRI/PTT).
Dengan penyuluhan yang diberikan kepada petani tentang optimalisasi
pemanfaatan air dan juga peningkatan penerapan irigasi ditambah dengan bantuan
sarana produksi seperti benih, pupuk hingga pompa air diharapkan mampu
menguranggi dampak dari permasalahan kekeringan pada lahan sawah. Sehingga
terjadi peningkatan sawah irigasi di daerah-daerah yang dapat meningkatkan
hasil produksi pangan Indonesia.
7.
Permasalahan Kekeringan Lahan Pertanian di Aceh
Aceh
merupakan salah satu provinsi yang berada di wilayah paling ujung barat
Indonesia, dimana sistem pertanian belum berkembang secara optimal. Petani di
Aceh yang mengusahakan padi dan palawija yang merupakan kebutuhan pokok rakyat mayoritas
masih mengandalakan pertanian tadah hujan yang tentunya terdapat berbagai
kendala salah satunya adalah jika musim kemarau tiba. Sawah tempat petani
bercocok tanam kekurangan air sehingga banyak petani yang gagal panen dan tentu
sangat merugikan para petani.
Pada
tahun 2013 pemerintah Aceh menargetkan hasil produksi padi 1,971,717 ton,
target ini lebih besar dari tahun sebelumnya, guna mencapai target tersebut,
Tahun 2013 ini juga pemerintah Aceh mendapat bantuan benih dari pemerintah
pusat dan berbagai program telah dirancang, antara lain perluasan areal tanam,
program pengendalian hama terpadu, dan program penyuluhan petani. Akan tetapi
program peningkatan produksi padi tersebut gagal terealisasi akibat kekeringan
yang melanda lahan pertanian di Aceh seperti yang dinyatakan Rahmad Yuli (2014) mengutip pernyataan Kepala
Dinas Pertanian Aceh, Razali Adami pada Tahun 2014 ini Aceh akan kehilangan
50.455 ton gabah. Diprediksi pula, kehilangan gabah sebesar itu bisa merugikan
Aceh hingga Rp 200 miliar. Terdapat Delapan kabupaten
dan kota di Provinsi Aceh mengalami kekeringan yang menyebabkan sebanyak 62.737
hektare lahan pertanian gersang.
Gambar 1. Kekeringan lahan pertanian Aceh
Sumber : www.republika.co.id
Padahal
jika dilihat sumber air cukup banyak di Aceh untuk mengaliri pertanian dan
perkebunan. Akibat kurangnya pemanfaatan irigasi dan hanya mengandalkan
air hujan mengakibatkan kurang maksimalnya
produktivitas yang di dapat, bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Bukan merupakan hal yang aneh jika Aceh masih
sangat bergantung dengan daerah tetangganya dalam hal pemenuhan pangan.
Anggota
Komisi IV DPR RI, M Ali Yakob menyebutkan, kemarau yang melanda Aceh
akhir-akhir ini seharusnya tak perlu berdampak buruk terhadap pertanian, karena
pada dasarnya provinsi tidak mengalami kekurangan air. “Jumlah sumber air cukup
banyak di Aceh. Hanya saja selama ini, dunia pertanian dan perkebunan masih
dihadapkan dengan persoalan terbatasnya sistem irigasi,”Mardira Salman (2014). Aceh memiliki 11 jaringan irigasi utama namun
jaringan pendukungnya hingga ke sawah-sawah warga belum memadai. Bahkan
sepertinya beberapa jaringan utama itu juga perlu perbaikan lagi. Untuk
mengatasi permasalahan kekeringan pada lahan pertanian Pemerintah Aceh bersama
pemerintah kabupaten/kota untuk dapat memberdayakan pompa air, Ini bisa diupayakan segera oleh pemerintah
sehingga petani tak perlu harus mengeluarkan
biaya untuk mendapatkan akses air untuk lahan pertaniannya.
Selain
daripada itu,banyak juga faktor yang dapat mempengaruhi naik turunnya rata-rata
produksi padi per hektar,pertanian merupakan tumpuan 60% masyarakat Aceh,
Irigasi menjadi permasalahan besar yang dialami oleh petani Aceh. Pada tahun
2012 daerah-daerah yang mengalami kekeringan di antaranya Kabupaten Aceh Besar,
Pidie, Pidie Jaya, Bireuen dan Aceh Utara dan Aceh Selatan, sehingga banyak
tanaman padi yang gagal panen, jika permasalahan ini tidak segera diselesaikan
maka target tersebut tidak akan tercapai dan Aceh gagal menjadi lumbung Padi
nasional. Akibat belum optimalnya infrastruktur pengairan di Aceh, pemerintah
Aceh berencana mengalihkan dana pembangunan kereta api ke irigasi,
program ini menjadi angin segar bagi para petani Aceh, (Mahlianurrahman,2013).
C. METODE
Metode
pengumpulan data dalam makalah ini di
dapatkan dari studi pustaka / dokumentasi yang dirangkum dari berbagai sumber
seperti buku, jurnal penelitian dan internet.
D. PEMBAHASAN
1 Studi Khasus Kekeringan di
Aceh
Aceh
Merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang mengalami kekeringan. Menurut
Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPN) Aceh masuk ke dalam zona
merah untuk wilayah yang mengalami bencana kekeringan di Indonesia.
Gambar 2. Peta Zonasi Ancaman
Bencana Kekeringan
Sumber : BNPN. 2010
Dari
gambar di atas dapat dilihat Aceh yang berada di wilayah paling utara pulau
Sumatera mendapat zonasi warna merah, yang berarti bencana kekeringan paling
rawan terjadi di daerah ini. Ini tentu akan sangat berdampak keberbagai sektor
khususnya pertanian. Jika tidak diantisipasi dengan baik masalah kekeringan
tentu akan menjadi permasalahan serius di daerah ini. Kecamatan Kluet Timur
salah satu wilayah di Aceh yang tiap tahunnya dilanda kemarau, sehingga para
petani tidak bisa bercocok tanam dua kali selama satu tahun, hal ini di
akibatkan kurangnya pasokan air dan tidak baiknya infrastruktur irigasi. Proyek
pembangunan bendungan irigasi di Kluet Timur mulai dikerjakan Oktober 2011.
Tapi sampai saat ini belum bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga ribuan
hektare lahan persawahan masyarakat di kawasan itu tidak sebaik produksi daerah
lain. Permasalahan inilah yang selalu dialami para petani di Kluet Timur.
Khasus
serupa juga terjadi di Aceh Pidie dan sekitaran Aceh Besar, seperti yang
terjadi di Darussalam Aceh Besar dimana sawah petani kering dan tanahnya mulai
pecah-pecah, petani terancam gagal panen. Jika tetap ingin mengalirkan air ke
sawahnya para petani harus mengeluarkan biaya untuk menyewa pompa air. Ini
membuktikan bahwa di Aceh terdapat sumber air tetapi pemanfaatanya saja yang
belum dioptimalkan untuk irigasi pertanian. Aceh memiliki cukup banyak air
untuk dijadikan irigasi seperti yang dikatakan (Nashruddin Boy.2013) “Sedikitnya saat ini Aceh punya 11 jaringan irigasi utama. Tapi
jaringan pendukungnya hingga ke sawah-sawah warga belum memadai. Bahkan
sepertinya beberapa jaringan utama itu juga perlu perbaikan lagi. Selain itu,
baik irigasi maupun sejumlah waduk juga dihadapkan dengan penumpukan sedimen di
dasarnya”. Jika tidak dibenahi ini tentu akan menjadi pemicu gagal panen dan
semakin menyengsarakan para petani.
Tabel 1. Luas Total Lahan Sawah
dan Sawah Irigasi
|
No
|
Kabupaten/Kota
DistrictMunitipality
|
Tahun 2012
|
||
|
Luas
Sawah Keseluruhan
|
Luas
Sawah Irigasi
|
Luas
yang belum Irigasi
|
||
|
1
|
Kab.
Simeuleu
|
7,390,68
|
493,51
|
6.897,17
|
|
2
|
Kab.
Aceh Singkil
|
2.431,11
|
682,48
|
1.748,63
|
|
3
|
Kab.
Aceh Selatan
|
17.778,57
|
5.996,01
|
11.782,56
|
|
4
|
Kab.
Aceh Tenggara
|
15.695,44
|
5.495,74
|
10.199,7
|
|
5
|
Kab.
Aceh Timur
|
31.861,43
|
14.461,52
|
17.399,91
|
|
6
|
Kab.
Aceh Tengah
|
5.952,68
|
5.366,94
|
585,77
|
|
7
|
Kab.
Aceh Barat
|
11.885,90
|
432,30
|
11.453,6
|
|
8
|
Kab.
Aceh Besar
|
25.784,87
|
16.050,53
|
9.734,34
|
|
9
|
Kab.
Pidie
|
29.162,92
|
22.083,80
|
7.079,12
|
|
10
|
Kab.
Bireuen
|
17.827,41
|
13.209.21
|
4.618,2
|
|
11
|
Kab.
Aceh Utara
|
41.320,00
|
38.203,26
|
3.116,74
|
|
12
|
Kab.
Aceh Barat Daya
|
18.718,83
|
18.558,17
|
160,66
|
|
13
|
Kab.
Gayo Lues
|
4.758,50
|
4.673,47
|
85.03
|
|
14
|
Kab.
Aceh Tamiang
|
18.517,06
|
1.265,53
|
17.251,53
|
|
15
|
Kab.
Nagan Raya
|
18.517,06
|
7.872,69
|
10.644,37
|
|
16
|
Kab.
Aceh Jaya
|
12.669,96
|
3.018,73
|
9.651,23
|
|
17
|
Kab.
Bener Meriah
|
3.910,67
|
3.896,95
|
13,72
|
|
18
|
Kab.
Pidie Jaya
|
8.761,82
|
7.172,54
|
1589,28
|
|
19
|
Kota
Banda Aceh
|
56,12
|
38,26
|
17,86
|
|
20
|
Kota
Sabanng
|
-
|
-
|
-
|
|
21
|
Kota
Langsa
|
1.668,72
|
-
|
-
|
|
22
|
Kota
Lhokseumawe
|
1.489,64
|
1.266,89
|
222,75
|
|
23
|
Kota
Subulussalam
|
1.815,99
|
27,31
|
1788,68
|
|
|
Aceh
|
297.336,38
|
170.265,84
|
127.070,54
|
Sumber
: Statistik Lahan Pertanian 2008-2012
Dari data di atas yang dapat
disimpulkan bahwa sawah yang teririgasi di Aceh Hanya 170.265,38 ha dari total
297.336,38 ha sawah yang ada atau hanya 57% saja yang memanfaatkan irigasi.
Selebihnya lahan sawah hanya mangandalkan air hujan saja yang tentunya sangat
rentan dengan kekeringan di musim kemarau. Maka tidaklah mengherankan program
peningkatan produksi padi yang direncanakan pemerintah pada tahun 2013
mengalami kegagalan. Jika ingin meningkatkan produksi hasil pertanian khusunya
padi maka infrastruktur juga harus ikut ditingkatkan terutama pengairan seperti
yang kita ketahui air merupakan kebutuhan pokok tanaman untuk dapat tumbuh dan
berkembang.
Irigasi
yang baik untuk pemenuhan air pertanian adalah satu liter per detik untuk
mengaliri 1 hektare lahan sawah. Jadi kalau ada sungai yang memiliki debit air
minumum pada musim kemarau hingga 2 meter kubik per detik, maka akan mampu
mengairi sawah seluas 2000 hektare. Jika permasalahan pengairan ini tidak dapat
diselesaikan maka target produksi padi di Provinsi Aceh pada tahun 2013 tidak
akan tercapai, akibat dampak terjadinya kemarau panjang yang menyebabkan areal
sawah di sejumlah kabupaten lumbung padi mengalami kekeringan. Saat ini
Thailand masih bertengger sebangai pengekspor beras terbesar di dunia. Setelah
itu diikuti oleh Vietnam, survei ini bisa saja berubah jika semua permasalahan
petani Aceh dapat di minimalisir. Semoga sistem pompa air tenaga surya dapat
digunakan petani Aceh dan harapan para petani ini mendapat perhatian pemerintah
provinsi Aceh.
2. Solusi Permasalahan Irigasi dengan Sistem Pompa Air Tenaga Surya
Seperti yang sudah dibahas dibagian atas bahwa Aceh salah satu daerah yang
mengalami kekeringan pada lahan pertanian dikarenakan para petani masih
mengandalkan sawah tadah hujan yang airnya hanya di dapat dari air hujan dan
juga karena tidak terdapatnya jaringan irigasi pendukung yang mampu mengalirkan
airnya hingga ke sawah-sawah. Dengan
permasalahan seperti itu masih banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengairai
lahan pertanian di Aceh, seperti air sungai dapat dialirkan langsung kelahan
pertanian, menyiram satu persatu tanaman, menggunakan pompa air tenaga surya,
dan sebagainya. Sistem Pompa Air Tenaga Surya (PATS) ditemukan pada tahun 1941,
dan dan telah dikembangkan oleh Alpen Steel. Pompa air tenaga surya lebih cocok
digunakan disekitar wilayah yang kekurangan air,
Karena topografi wilayah Aceh pada umumnya terdapat di dataran
rendah maka PATS sumber airnya dapat diambil dari sumur gali, sumur bor.
Wilayah yang berada dekat dengan sungai dapat mengambil sumber airnya dari sungai,
dan sebagainya. PATS sangat dapat diandalkan dan tidak ada perawatan khusus
yang harus dilakukan, karena sistem ini tidak menggunakan baterai sebagai media
penyimpanan energi, tidak membutuhkan tenaga operator untuk mengoperasikan
sistem ini dan memiliki usia pakai yang jauh lebih panjang, tidak membutuhkan
bahan bakar minyak sehingga tidak memerlukan iuran dari para pengguna air. Maka,Teknologi pompa air tenaga
surya ini selain ramah lingkungan, biaya operasional cukup rendah namun lebih
dari itu mampu memasyarakatkan teknologi di kalangan masyarakat terpencil,
selama matahari bersinar pompa ini akan terus mengeluarkan air, untuk mengatasi
kekurangan air di saat matahari tidak bersinar maka perlunya bak penampungan
sementara sehingga kebutuhan air tetap dapat dipasok, untuk lebih lanjut Aceh
dapat mencontoh California.
Tahun 1983 California, Amerika Serikat membangun pembangkit
listrik Tenaga surya terbesar di dunia, selain California, Negara lain seperti
Afrika Selatan, Jepang, Cina, Denmark, Jerman juga telah menggunakan sistem
tenaga surya. Dimana California telah menggunakan tenaga surya untuk memenuhi
seluruh kebutahan dan aktifitas masyrakatnya. Di Hamburg, lampu-lampu di
taman dan kebun, lampu senter, TV, lampu besar di depan pintu utama, jam
dinding, lemari es, didalam atau di luar ruangan,begitu juga untuk memenuhi
pasokan air di negara tersebut dan masih banyak lagi, semua itu menggunakan
tenaga surya, sementara di Aceh sendiri tak terlihat orang menggunakan tenaga
surya, padahal tenaga surya dapat menghemat APBD dan Ramah Lingkungan, jika
sistem ini didorong oleh pemerintah Aceh maka tidak mustahil Aceh menjadi salah
satu lumbung padi nasional.
Umumnya
wilayah Aceh merupakan daerah yang berada di dataran rendah dimana air tanah
sangat mudah didapatkan serta penyinaran matahari yang sangat optimal. Saya
rasa wilayah seperti ini sangat cocok menggunakan sistem pompa air tenaga
surya, energi pompa berasal dari cahaya matahari, maka volume air yang
dihasilkan oleh sistem pemompaan lebih banyak saat kemarau, sedangkan saat musim
hujan volume air yang dipompa lebih sedikit.
Gambar 3. Sistem kerja Pompa Air tenaga Surya
Sumber
: Jayasurya teknik.Blogspot
Cara kerja pompa air dengan tenaga surya ini pun relatif lebih mudah
dipahami. Yakni energi panas dari matahari ditampung lewat plat-plat dari
aluminium di sebuah lapangan terbuka. Energi
panas yang ada di plat kemudian dialirkan ke baterai pompa sehingga pompa bisa
dinyalakan sewaktu-waktu. Diuraikan menurut (Adeka Larungki, 2014).Sistem pompa
air tenaga surya terdiri dari 3 komponen utama, diantaranya :
1. Solar panel berfungsi metubah energi
cahaya matahari menjadi energi listrik yang digunakan untuk menjalankan pompa
2. Motor controller, berfungsi untuk mengatur
energi listrik yang dihasilkan agar dapat dimanfaatkan untuk menggerakan pompa.
3. Pump Unit, berfungsi untuk merubah energy
listrik yang disalurkan oleh motor controller menjadi energi gerak untuk
memompa air.
Dengan dikembangkan sistem pompa air
tenaga surya diharapkan dapat mengatasi masalah krisis air untuk pertanian,
dengan cara memaksimalkan ketersediaan air yang ada sehingga target produksi
beras dapat tercapai.
3. Sumbangsih
pada dunia pendidikan
Dalam pembelajaran geografi Terdapat banyak materi yang dapat
diambil sebagai bahan pembelajaran yang dapat disampaikan seorang guru kepada
siswa di sekolah mulai dari siklus hidrologi yang berada pada materi biosfer di
kelas x hingga negara maju dan berkembang yang berada di kelas xii yang sangat
berhubungan dengan judul yang dibahas dalam makalah ini. penerapan peningkatan
teknologi pertanian dalam bidang pendidikan. Salah satu contohnya dapat diambil
dari materi di atas, yaitu irigasi. Guru dapat membawa siswa langsung ke salah
satu lokasi irigasi, di tempat tersebut guru langsung menjelaskan bagaimana air
dapat dimanfaatkan dalam teknologi pertanian serta permasalahan yang terjadi
pada penerepan teknologi pertanian. Irigasi merupakan salah satu pengunaan
metode teknologi dalam pertanian sebagai salah satu upaya yang dilakukan
manusia untuk mengaliri lahan pertanian.
Guru
menjelaskan tujuan dan fungsi dibuatnya irigasi di suatu wilayah misalnya
untuk: efisiensi pemanfaatan air, meningkatkan produksi pangan terutama beras,
memasok kebutuhan air tanaman,dll. Setelah guru menyampaikan tujuan dan fungsi
dasar dari irigasi, siswa dapat memahami metode teknologi dalam pertanian yang
berkaitan dengan air. Guru dapat mengembangkan pemanfaatan teknologi pertanian
ke arah yang lebih luas, guru dapat memberikan contoh perbandingan teknologi
pertanian dari negara berkembang sampai ke negara maju dengan menggunakan
multimedia (video/gambar) pembelajaran. Dan menjelaskan bagaimana teknologi
pertanian dapat mempengaruhi hasil produksi serta kualitas hasil pertaniannya
sehingga akan berdampak pada perekonomian negara yang bersangkutan.
Siswa
yang sudah diberikan pengetahuan dasar tentang penerapan metode teknologi
pertanian dalam hal ini irigasi serta melihat perbandingan penerapan teknologi
pertanian di negara maju dan negara berkembang diminta untuk menganalisis
permasalahan dan kendala apa yang menjadi penghambat negara Indonesia sulit
untuk meningkatakan penerapan teknologi dalam pertanian.
a) Rubrik
Penilaian Pada Materi hidrologi
(pemanfaatan air irigasi)
1. Penilaian Sikap
Penilaian
sikap terdiri dari penilaian sikap spiritual dan sikap sosial (Teliti). Lembaran
ini diisi oleh guru/peserta didik/teman peserta didik, untuk menilai sikap
peserta didik. Berilah tanda cek (√) pada kolom skor sesuai sikap yang ditampilkan
oleh peserta didik, dengan kriteria (rubrik) sebagai berikut :
4
= selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan
3
= sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan
Kadangkadang tidak
melakukan
2 = kadang-kadang, apabila kadang-kadang
melakukan dan sering
tidak melakukan
1 = tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan Skor
akhir
menggunakan skala 1 sampai 4 Perhitungan skor akhir menggunakan
rumus : Skor Akhir
x
4
Contoh : Skor
diperoleh 14, skor tertinggi 4 x 5 pernyataan = 20, maka skor akhir :
x
4 = 2,8
Peserta didik
memperoleh nilai :
Sangat Baik :
apabila memperoleh skor 3.20 – 4.00 (80 – 100)
Baik : apabila
memperoleh skor 2.80 – 3.19 (70 – 79)
Cukup : apabila
memperoleh skor 2.40 – 2.79 (60 – 69)
Kurang : apabila
memperoleh skor kurang 2.40 (kurang dari 60%)
2. Penilaian
Pengetahuan
|
No
|
Soal Tertulis
|
Kunci Jawaban
|
Skor
|
|
1
|
Apa yang
dimaksud dengan Irigasi ?
|
Irigasi adalah
usaha penyediaan, pengaturan dan pengembangan air irigasi untuk menunjang
pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi
air bawah
tanah, irigasi pompa dan irigasi tambak.
|
|
|
2
|
Jelaskan
sejarah perkembangan irigasi di
Indonesia
|
Sistem irigasi
di Indonesia sudah mulai dikenal jaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.
Namun pada saat tersebut belum ada catatan
yang dibuat
sehingga pekembangan system irigasi belum terdokumentasi dengan baik. Sejarah
perkembangan
irigasi di
Indonesia dapat dibedakan menjadi 5 priode, yaitu (1) masa sebelum penjajahan,
(2) masa penjajahan, (3) masa revolusi atau pasca colonial, (4) Masa orde
baru, (5) masa pasca orde baru atau reformasi.
|
|
|
3
|
Jelaskan
Fungsi, Tujuan
dan manfaat
irigasi
|
Fungsi irigasi
adalah menambah (suplesi) kekurangan air pada lahan petanian yang diperoleh
dari air hujan atau air tanah, karena jumlah air yang diberikan kepada
tanaman tidak mencukupi kebutuhan tanaman.
Jika
penambahan air melalui irigasi tidak dilakukan, maka pertumbuhan tanaman
tidak akan optimal, dan tidak akan menghasilkan panen sesuai dengan yang
diharapkan. Jika
jumlah atau
volume curah hujan atau air tanah yang dapat diambil tanaman sudah mencukupi
kebu-tuhannya, maka irigasi tidak diperlukan lagi.
Adapun tujuan
irigasi pada suatu daerah adalah upaya untuk penyediaan dan pengaturan air
untuk menunjang pertanian, dari sumber
air ke daerah
yang memerlukan
dan
mendistri-busikan secara teknis dan sistematis. Sedangkan manfaat yang diperoleh
dari kegiatan iri-gasi
adalah (1)
untuk membasahi tanah, yaitu membantu pembasahan tanah pada daerah yang curah
hujannya kurang atau tidak menentu, (2) untuk
mengatur
pembasahan tanah, yang dimaksudkan agar daerah pertanian dapat memperoleh air
sepanjang waktu, baik pada musim kemarau mupun pada musim penghujan, (3)
untuk meningkatkan kesuburan tanah, yaitu dengan mengalirkan air
yang dan
lumpur yang mengandung unsur hara terlarut yang dibutuhkan
tanaman pada
daerah pertanian sehingga daerah tersebut tanahnya mendapat tambahan unsur-unsur
hara, (4) untuk kolmatase, yaitu meninggi-kan tanah yang di dataran rendahseperti rawa-rawa dengan
endapan lumpur
yang terbawa oleh air irigasi, (5) untuk penggelontoran air di kota, yaitu
dengan menggunakan air irigasi, kotoran/sampah di kota digelontor ke tempat
yang telah disediakan dan selanjutnya dibasmi secara alamiah
|
|
|
4
|
Jelaskan
klasifikasi system
irigasi
|
Sistem irigasi
dapat dikelompokkan
menjadi
bebrapa jenis
antara lain :
Sistem
Irigasi Permukaan
(Surface
Irrigation System)
Sistem
Irigasi Bawah
Permukaan (Sub
Surface
Irrigation
System)
Sistem
Irigasi Curah
(sprinkler
irrigation)
Sistem
irigasi tetes (Drip
Irrigation)
|
|
|
5
|
Hal-hal yang
diatur dalam undang-undang irigasi
|
Hal-hal yang
di atur dalam undang-undang irigasi adalah :
Prinsip
pengelolaan Irigasi
Kelembagaan
Pengelolaan
Irigasi
Pemberdayaan
Perkumpulan
Petani
Pemakai Air
(P3A)
Konsepsi
Kelembagaan
Pengelolaan
Irigasi
Kebijakan
Pengelolaan
Irigasi
Pengelolaan
Air Irigasi
Pembangunan
Jaringan
Irigasi
Pengelolaan
Jaringan Irigasi
Inventarisasi Aset Irigasi
Pembiayaan
irigasi
Alih fungsi
lahan beririgasi
|
|
Sumber : buku irigasi dan drainase
E.
PENUTUP
1
Kesimpulan
Indonesia
merupakan negara agraris yang penduduknya mayoritas bekerja pada sektor
pertanian. Pengembangan pada sektor pertanian menjadi sangat penting dilakukan
untuk meningkat perekonomian di Indonesia. Pertanian adalah bagian dari
produksi atau usaha yang dilakukan oleh petani untuk memenuhi kebutuhan
ekonominya dengan mengelola tumbuhan/tanaman dan lingkungan.
Dalam
bidang pertanian, air sangat berperan penting sebagai kebutuhan tanaman. Air
merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman padi di
sawah. Masalah pengairan bagi tanaman padi sawah merupakan salah satu faktor
penting yang harus mendapat perhatian penuh demi mendapat hasil panen yang akan
datang. Salah satu teknologi industri dalam pertanian yang sangat berhubungan
dengan air adalah irigasi. Irigasi adalah menyalurkan air yang
perlu untuk petumbuhan tanaman ke tanah yang diolah dan mendistribusinya secara
sistematis. Terdapat beberapa jenis pembagian irigasi menurut proses pengaliran airnya
yaitu : irigasi permukaan, irigasi lokal, irigasi penyemprotan, iragis
tradisional dengan ember, dan irigasi pompa air.
Aceh
merupakan salah satu wilayah agraris yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai
petani. Pemerintah Aceh memiliki program peningkatan produksi padi, tetapi
program tersebut sulit berjalan karena beberapa wilayah lumbung padi di Aceh
mengalami kekeringan. Lahan sawah di Aceh hanya 57% yang menggunakan irigasi
ini tentu sangat rentan dengan kekeringan yang dapat menyebabkan kegagalan
panen. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut
adalah dengan menggunakan sistem pompa air tenaga surya.
Sistem pompa
air tenaga surya adalah sistem pompa yang airnya dapat diambil dari sumur gali,
sumur bor, danau dan sebagainya dan dialirkan kelahan pertanian dengan
mengguanakan pompa air yang energinya didapatkan dari sinar matahari. sistem
ini dan memiliki usia pakai yang jauh lebih panjang, tidak membutuhkan bahan
bakar minyak sehingga tidak memerlukan iuran dari para pengguna air.
Maka,Teknologi pompa air tenaga surya ini selain ramah lingkungan,
biaya operasional cukup rendah namun lebih dari itu mampu memasyarakatkan
teknologi di kalangan masyarakat terpencil
2. Saran
Penerapan teknologi dalam bidang
pertanian sangat penting untuk dilakukan dalam upaya meningkatkan hasil
produktivitas dan mengoptimalkan pengelolaan dalam bidang pertanian. Pemerintah
Aceh harus memperbaiki infrastruktur pengairan ke lahan sawah petani untuk
mencegah dari kekeringan. Pemerintah bisa menerapakan sistem pompa air tenaga
surya untuk mengairi lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Karena lebih
efisien tanpa bahan bakar dan juga bisa digunakan dalam jangka waktu yang
panjang.
Daftar
Pustaka
Adeka Larungki. 2014. Cara Kerja Sistem
Pompa Air Tenag Surya. [Online]. Diakses pada 18 November 2014, dari
javasuryateknik.blogspot.
Anonim. 2014. Pembangunan Pertanian. [Online]. Diakses pada 29 Oktober 2014, dari
www.id.wikipedia.org/wiki/Pembangunan_pertanian.com
Anonim. 2014. Sekilas definisi konsep dan pertanian. [Online].Diakses pada 29
Oktober 2014, dari www.
organichcs.com/2014/01/10/sekilas-definisi-konsep-petani-dan-pertanian.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPN),2010. Peta Zonasi Bencana Kekeringan di Indonesia.
Bafdal, Nurpilihan.2012. Pengantar Industri Teknologi Pertanian.
Bandung : Unpad Press
Mahlianurrahman. 2013. Irigasi Kunci Keberhasilan Petani Aceh.
[Online]. Diakses pada 17 November 2014, dari wismafoba.com
Noor Djauhari. 2006. Geologi Lingkungan. Yogyakarta : PT.
Graha Ilmu.
Nurmala, T. Dkk. 2012. Pengantar Ilmu Pertanian. Yogyakarta :
Graha Ilmu.
Peraturan
Pemerintah No.77 Tahun 2001 Tentang Irigasi.
Pusat Data
dan Sistem Informasi Pertanian. 2013. Statistik Lahan Pertanian Tahun
2008-2012. Jakarta: Pusat Data dan Sistem informasi Pertanian
Prabowo Agung
& Joko Wiyono,2006. Pengelolaan Sistem Irigrasi Mikro Untuk Tanaman
Hortikultura dan Palawija. Jurnal Enjiniring Pertanian, IV(2), pp 84.
Rahayu, Sri,
2011. Penyebab Kekeringan dan Upaya Penanggulangan. [Online]. Diakses 27
November 2014, dari www.cybex.deptan.go.id
Rahmad Yuli.2014.
Kerugian Aceh Karena Kekeringan Diperkirakan Mencapai 200 Miliar.
[Online]. Diakses 19 November 2014, dari www.acehmail.com/2014/08/kerugian-aceh-karena-kekeringan diperkirakan-mencapai-rp-200-miliar/
Sosrodarsono Suyono dan Takeda
Kensaku.1978. Hidrologi untuk pengairan.
Jakarta: PT Pradnya Paramita
Temang, Kristo. 2013. Sistem Irigasi ditinjau dari cara.
[Online]. Diakses pada 31 Oktober 2014, dari www.
kristotemang.blogspot.com/2013/05/sistem-irigasi-ditinjau-dari-cara.
Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air



Posting Komentar